Senin, 04 Agustus 2008

Gajah Mada atau Penumpang Bus

--------------------------------------------------------------------------------

Berakit-rakit bersama,
berenang-renang sendirian
Bersakit-sakit bersama,
bersenang-senang sendirian


Inilah sepotong kidung ungkapan hati yang sarat akan sinisme dari para perintis yang tersingkir dari pentas perusahaan. Kepiluan yang mendera ketika hasil karya mereka tiba-tiba menjadi Malin Kundang yang durhaka, yang berani menendang mereka dari kursinya, seperti Frankestein yang menganggu ketentraman hidup pembuatnya.

Para perintis adalah orang yang berlepotan lumpur ketika mencangkul tanah untuk membangun pondasi perusahaan. Menerabas belantara dengan fasilitas seadanya. Membangun perusahaan with tears and blood. Haruskah mereka tersingkir dari perusahaan yang dengan susah payah mereka bangun dan digantikan oleh para eksekutif muda, berpendidikan tinggi, enerjik, tetapi bergaji tinggi dan manja akan fasilitas ? Lantas bagaimana dengan jasa-jasa yang telah mereka sumbangkan ? Pengorbanan yang diberikan pada saat masa-masa prihatin ?

Setidaknya ada lima macam perintis dalam kaitannya dengan eksistensi mereka, ketika perusahaan berkembang pesat. Pertama, adalah tipe Gajah Mada. Kedua, yang bertipe Mediokrat. Ketiga, Toxic Executive. Keempat, Sesepuh. Kelima, Penumpang Bis.

Gajah Mada. Ini adalah perintis unggulan yang mempunyai visi Amukti Palapa. Loyalitas yang diberikan bukan kepada perorangan. Maha Patih Gajah Mada mengabdi kepada visinya untuk mempersatukan Nusantara, bukan kepada raja. Melalui sumpah Amukti Palapa dia ingin mewujudkan visinya tersebut, walaupun telah terjadi pergantian raja beberapa kali. Ambisinya bukan untuk merengkuh kedudukan, tetapi untuk memajukan negeri. Dalam lingkup perusahaan perintis yang seperti ini memang tidak mudah dicari. Dia tetap dibutuhkan perusahaan walaupun perusahaan telah mengalami suksesi. Pemahaman yang mendalam terhadap perusahaan, corporate culture yang telah meresap dalam sanubarinya, pengalaman yang panjang dan kemauannya untuk belajar menghadapi hal-hal yang baru menjadikannya tak gentar menghadapi perubahan. Setidaknya terdapat beberapa hal yang menyebabkan dia sulit dicari tandingnya. Pertama, pengalamannya yang panjang dan telah teruji dalam menghadapi kesulitan, menyebabkan ia mempunyai kiat-kiat jitu dalam menghadapi problema yang rumit. Intuisinya telah terasah dengan baik, sehingga mempunyai judgment dalam membuat keputusan secara cepat. Kedua, kemampuan menggabungkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh secara learning by doing memperkokoh otoritas kepakarannya. Kemudian perjalanan kariernya yang panjang, menjadikannya memiliki network yang luas dan sangat bermanfaat bagi perusahaan.

Mediokrat. Perintis seperti ini, memiliki suatu kelebihan yang sulit dicari di kalangan orang baru, tetapi tidak berprestasi secara optimal. Kelebihan itu bisa berbentuk network yang luas, nama yang dikenal luas di kalangan stake holder atau keahlian khusus yang terbentuk oleh pengalaman dan memang masih diperlukan oleh perusahaan. Walaupun prestasinya tidak maksimal, perusahaan berkepentingan untuk mempertahankan.

Sesepuh. Perintis yang tergolong dalam tipe ini dipertahankan di perusahaan sebagai kekuatan moral. Ia dapat bertindak sebagai goal getter maintenance, ketika organisasi dilanda konflik atau menghadapi kesulitan besar. Ia seperti pohon yang rindang tempat berteduh, ketika suasana memanas. Ia dapat berdiri di atas semua golongan di dalam perusahaan. Tokoh kharismatik yang dihormati anggota organisasi sebagai tokoh pemersatu.

Toxic Executive. Mempunyai resistensi terhadap perubahan, karena ketakutan eksistensinya terganggu. Tindakannya banyak diwarnai semangat vested interest dan berfokus pada diri sendiri. Ia telah menebar tuba dalam perusahaan dan menciptakan chaos. Kurang dapat bekerja sama dengan anngota organisasi lainnya dan cenderung fanatik dengan kelompoknya sendiri. Banyak melakukan aktivitas office politic yang melahirkan pertarungan semu, yaitu pertarungan antara organisasi dan dirinya sendiri.

Penumpang bus. Kontribusi yang diberikan kepada organisasi pada saat ini sangat kecil. Walaupun demikian masih mempunyai sikap positif terhadap organisasi. Pada saat ini mungkin menjadi beban bagi organisasi, tetapi tidak mempunyai efek toxic. Dia duduk di kursi kehormatan sebagai imbalan atas jasa-jasanya yang sangat berharga kepada organisasi di masa lalu. Ia seperti penumpang bis yang akan turun di terminal tujuan pada saat pensiun, karena telah membayar tiket di terminal pemberangkatan.

Perlakuan kepada para perintis tidaklah sama, tergantung dari keseimbangan antara kontribusinya kepada organisasi di masa lalu dan kontribusinya pada saat ini. Jika tidak dapat ditempatkan di dalam jabatan struktural, dapat ditempatkan di jabatan fungsional atau mungkin di jabatan kehormatan. Tentu saja dengan pengecualian bagi toxic executive.


--------------------------------------------------------------------------------

* Managing Partner The Jakarta Consulting Group

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ya

Lowongan Kepala Afdeling

Kepala Afdeling PT Union Sampoerna Triputra Persada                          Requirements Berusia antara 25 - 35 tahun Pendidik...