Senin, 30 Juni 2008

Mengasah Kompetensi

Himawan Wijanarko*


--------------------------------------------------------------------------------

Salah satu inti dalam meniti jenjang karir adalah seberapa jauh kita memiliki kompetensi seperti yang dituntut oleh jabatan yang lebih tinggi. Jika ternyata kita memiliki kompetensi yang dipersyaratkan oleh jabatan tersebut dan ternyata kompetensi kita memang lebih baik dibandingkan dengan calon-calon yang lain, kemungkinan untuk menduduki jabatan tersebut berda di pelupuk mata. Apalagi jika perusahaan menerapkan Competency-based Human Resouces Management, persyaratan terhadap kompetensi yang harus dimiliki semakin ketat.

Siapakah orang yang dianggap kompeten dalam suatu bidang pekerjaan tertentu ? Yaitu orang yang memiliki kinerja yang sangat bagus (superior performance). Superior performer ini kemudian diidentifikasi karakteristiknya, yang diperkirakan menunjang pencapaian kinerjanya tersebut. Pencapaian kinerja ini diibaratkan sebagai sebuah pulau atoll di tengah samudera, dimana hanya puncaknya saja yang kelihatan di permukaan laut tetapi di bawahnya ada lereng gunung. Nah, lereng gunung yang besar inilah yang digali melalui identifikasi ciri-ciri tersebut. Ciri-ciri itu dipilah menjadi tiga bagian yaitu knowledge, skills, dan attitude.

Jadi jika anda ingin mengembangkan kompetensi anda, sehingga benar-benar dapat menjadi orang yang kompeten dalam bidang pekerjaan atau keahlian anda, anda harus memperhatikan ketiga aspek tersebut. Anda tidak dapat misalnya, hanya meningkatkan knowledge saja tetapi mengabaikan dua yang lainnya.

Dalam bahasa sehari-hari dikenal istilah hard skills dan soft skills. Hard skills adalah istilah yang dipakai untuk menjelaskan kompetensi-kompetensi yang terkait langsung dengan pekerjaan kita. Misalnya keahlian dalam membuat program bagi programmer. Sedangkan soft skills adalah keahlian yang menunjang hard skills tersebut. Soft skills ibaratnya adalah kompetensi yang membukus kompetensi inti yang dimiliki, misalnya interpersonal skills, communication skills, presentation skills, negotiation skills, dan lain-lain.

Hard skills ini selalu dikembangkan, itu sudah menjadi kesadaran semua orang. Tetapi kadang-kadang kita melihat mengapa seseorang yang technical skills-nya sangat tinggi tetapi karirnya sulit berkembang. Justru orang dengan technical skill yang hanya sedikit di atas rata-rata, karirnya dapat melejit lebih cepat. Setelah ditelusuri ternyata social skillsnya lebih baik. Ia dapat mempersuasi dengan meyakinkan, teknik presentasinya bagus sehingga ide-idenya mudah diterima dikalangan internal organisasi khususnya para pimpinan puncak perusahaan, maupun di kalangan eksternal organisasi. Dengan demikian explosurenya menjadi luas dan ide-idenya lebih mungkin untuk terealisasi.

Sebaliknya dengan orang yang technical skills-nya tinggi, tetapi sulit bekerja sama dengan orang lain, tidak dapat mengutarakan ide-idenya dengan jernih dan tidak mampu mempersuasi orang lain untuk mendukung ide-idenya. Sehingga dalam kenyataannya potensi yang telah dimiliki tidak dapat diwujudkan menjadi actual performance.

Harus disadari bahwa organisasi dalam meraih tujuannya selalu melibatkan banyak orang. Suatu pekerjaan adalah merupakan kelanjutan dari pekerjaan sebelumnya dan selalu terkait dengan bagian lain dalam organisasi sehingga membentuk sebuah proses. Kemampuan untuk menjadi bagian dari sebuah proses menjadi sangat penting. Seorang superior performance memiliki kemampuan untuk menggabungkan kemampuan yang dimiliki dalam aliran proses tersebut. Agar dapat masuk dalam aliran proses tersebut dibutuhkan kemampuan bekerja sama dengan pihak lain yang membutuhkan keterampilan-keterampilan tertentu seperti komunikasi, persuasi dan adaptasi. Di sinilah pentingnya mengasah soft skills untuk mendukung hard skills yang dimiliki. Alangkah idealnya jika seiring dengan pengembangan hard skills juga dilakukan pengembangan soft skills.

Berkaitan dengan pengembangan kompetensi dalam kaitannya dengan pengembangan karir, pertama kali yang harus dilakukan adalah mengindentifikasi kompetensi yang dibutuhkan untuk jabatan anda saat ini dan saat mendatang, sesuai dengan jalur karir Anda. Beruntung bagi Anda yang bekerja di perusahaan yang telah menerapkan Compentency-based HRM, kompetensi yang dibutuhkan suadah tertera untuk setiap jabatan, berikut proficiency level-nya. Berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan dalam jalur karir Anda, lakukan rencana pengembangan diri.

Menambang Jejaring 'Alumni' Perusahaan

A.B. Susanto*


--------------------------------------------------------------------------------

Inilah fenomena mutakhir dalam dunia para profesional : para profesional berpindah-pindah perusahaan untuk meniti karirnya. Lebih seru lagi banyak pula profesional yang berganti profesi. Dinamika dunia bisnislah yang melahirkan semua ini. dan sebutan profesional ‘kutu loncat’ pelan-pelan mulai menghilang.

Telah terjadi pergeseran makna loyalitas. Dari loyalitas kepada perusahaan menjadi loyalitas terhadap profesi. Apa konsekuensinya ? Para profesional menjadi mudah berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tanpa merasa dianggap sebagai tidak profesional.

Bahkan belakangan telah terjadi kecenderungan loyalitas lebih dikaitkan dengan etika bisnis. Jadi jika seseorang akan pindah pekerjaan masalah, etislah yang menjadi pertimbangan utama. Misalnya jika seseorang akan pindah kepada kompetitornya, apakah etis atau tidak ? Bisa saja untuk bidang-bidang profesi tertentu tidak masalah, tetapi untuk bidang-bidang profesi lainnya menimbulkan masalah etis. Misalnya untuk bidang SDM dan produksi tidak menimbulkan masalah etika, tetapi untuk bidang R & D menimbulkan masalah etika. Demikian pula jika kepindahannya ke tempat lain dengan cara bedhol deso, dengan menarik semua bawahannya ke tempat yang baru, apakah etis atau tidak.

Kenyataan inilah yang harus diterima oleh perusahaan. Perusahaan selalu berupaya untuk mempertahankan orang-orangnya, tetapi harus menerima dengan lapang dada ketika mereka keluar dari perusahaan untuk membina karir di perusahaan lain.

Tetapi benarkah perusahaan benar-benar tak mau ‘ditinggalkan” SDM-nya. Anggapan ini tidak selalu tepat. Kita akan menemui realitas bahwa organisasi berbentuk piramida sehingga tidak semua karyawan sampai pada posisi puncak. Terdapat suatu titik tertentu yang menyebabkan seseorang tidak dapat dipromosikan lagi. Apakah karena kebutuhan perusahaan sudah tercukupi atau karyawan bersangkutan memang sudah sampai pada batas kemampuannya. Kenyataan ini menyebabkan orang yang mengalami stagnasi pada suatu titik tertentu, dan sebaiknya mencari alternatif lain di luar perusahaan. Daripada keluarnya ‘dipaksa’ (dengan pemutusan hubungan kerja, pensiun dini, pengunduran ddiri dan lain-lain) lebih baik di’ikhlas’kan dan mencari manfaat dari kepindahan para profesional ini.

Ada baiknya kita tengok arus sumber daya manusia di dalam perusahaan, yaitu arus masuk (rekrutmen), arus di dalam (promosi, demosi, mutasi, rotasi), dan arus keluar (pengunduran diri, pensiun, PHK). Berdasarkan arus ini terdapat lima pendekatan yang dipakai yaitu “life long employment”, “in, up and out”, “unstable up or out”, “in-out”, dan campuran. Dalam pendekatan life long employment karyawan masuk dari bawah dan mendapat pembinaan terus menerus oleh perusahaan sepanjang karirnya. Dalam pendekatan “in, up and out”, karyawan masuk dari posisi yang paling rendah kemudian dibina sesuai dengan jenjang karir sampai tidak dapat dipromosikan lagi, dan keluar. Dalam pendekatan unstable in-out karyawan dapat direkrut dari berbagai tingkatan dan dapat terjadi ‘arus keluar’ pada setiap tingkat jenjang karir. Pendekatan in-out, terjadi jika jabatan ketika masuk sama dengan ketika keluar, misalnya tenaga ahli. Pendekatan campuran menggabungkan keempat pendekatan misalnya untuk tenaga inti digunakan pola life long, untuk tenaga dalam projek memakai pola unstable in out dan untuk pekerja klerikal pola “in, up and out”, untuk sopir menggunakan pola in-out. Jadi sesungguhnya perpindahan karyawan juga merupakan ‘harapan’ perusahaan, dengan formula tertentu. Masalahnya adalah bagiamana mengambil manfaat dari fenomena ini, bahkan ketika karyawan sudah berada di luar lingkungan perusahaan.

Sebenarnya telah terjadi ‘revolusi’ dalam hubungan karyawan dan perusahaan, yang dahulunya berbasis job security menjadi employability. Perusahaan melakukan pengembangan dan pemberdayaan SDM agar dapat bekerja di dalam perusahaan dan jika karena sesuatu hal terjadi terhadap perusahaannya (restrukturisasi, merger & akusisi, down sizing dan lain-lain) sehingga perusahaan tidak membutuhkan kontribusinya lagi, mereka tetap employable di pasar tenaga kerja.

Lantas apa hubungannya dengan pemanfaatan jejaring ‘alumni’. Kita ambil saja contoh perpindahan profesonalnya yang paling tinggi : para profesional di dunia IT. Microsoft adalah salah satu perusahaan yang memanfaatkan dengan baik fenomena ini. Tingginya turn over yang dialami oleh IT company bukan merupakan masalah bagi mereka, justru disulap menjadi berkah. Mereka justru menggenjot alumninya sebanyak mungkin. Alumninya yang tersebar di berbagai perusahaan justru menjadi jembatan emas, untuk bersentuhan dengan para decision maker. Mereka juga mendukung karyawannya yang mendirikan konsultan dengan berbagai sponsorship, terutama yang akan menjadi partner consultant mereka. Sebuah langkah yang brilian dan pantas mendapat acungan jempol. Para karyawan yang keluar ini akan menjadi ‘Microsoft Disciples’ yang akan mewartakan produk dan sistem mereka. Selama mereka bekerja di Microsoft mereka bukan hanya belajar mengenai produk dan sistem belaka. Tetapi juga paradigma, pola pikir, sikap dan nilai-nilai. Bagi negara yang sedang berkembang seperti negara kita, para alumni Microsoft ini tentu mempunyai peran yang tidak kecil dalam bisnis TI.

Bagiamana mengatasi efek negatif turn over yang tinggi ini, mengingat tingginya value outflow ? Salah satunya dengan penerapan Knowledge Management, yang intinya setiap orang yang memegang jabatan tertentu ‘diwajibkan’ mendokumentasikan apa saja yang diketahui dan dikerjakan berkaitan dengan pekerjaannya. Sehingga ketika dia keluar, dapat dengan mudah digantikan oleh orang lain. Terdapat transfer dari knowledge individual menjadi knowledge organisasi.

Kasus di atas adalah contoh bagaimana ‘menambang’ butiran emas jejaring alumni untuk industri TI. Bagaimana dengan industri Anda?

Kamis, 26 Juni 2008

Mencipta Energi Biogas Dengan Swadaya Masyarakat

“Bagaimana bisa kotoran ternak menjadi sumber energi alternatif?” itu yang pertama kali terlintas dalam benak ketika harus menuju Malang. ”Bagaimana cara mengangkut kotoran ternak tersebut menuju pabrik biogas?, apakah pabrik biogas juga harus memelihara ternak?”, beribu pertanyaan menghujam dalam benak.

Sesampai di desa Jabung, berbincang dengan koperasi KAN Jabung, baru lah jelas, ternyata biogas itu di hasilkan dari swadaya masyarakat setempat. ”Ide mengembangkan biogas ini tercetus karena semakin mahalnya bahan bakar minyak dan gas yang digunakan masyarakat setempat”, ungkap Santosa, Sektretaris Koperasi KAN Jabung.

Untuk pilot project pertamakali di desa kemiri, tahun 2006 maret. Hingga saat ini sudah 36 instalansi di 11 desa (kemiri, selampar, wonorjo, argosari, sidomulyo, pandan sari, sukopuro, depok, matrek, gunung jati, jabung). “Untuk satu instanalsi bisa memenuhi kebutuhan gas 3 rumah tangga, maka dengan 33 instalansi saat ini bisa memenuhi kebutuhan gas 108 rumah tangga”, jelas Suntosa.

Teknologi Biogas

Konsep teknologi biogas ini sangat sederhana dan memang sesuai diterapkan di desa-desa yang sebagian besar penduduknya memiliki ternak sapi, yaitu dengan memproses limbah bio atau bio massa di dalam alat kedap udara yang disebut gester. Biomassa berupa limbah tidak hanya menggunakan kotoran ternak, tetapi bisa menggunakan feses manusia, atau sisa-sisa panenan. Namun sebagian besar penduduk Malang, memanfaatkan kotoran ternak sebagai bahan baku utama.

Teknologi biogas ini memanfaatkan gas methan (CH4) yang terdapat dalam kotoran ternak. Gas methan ini terbentuk dari proses fermentasi secara anaerobic oleh bakteri methan atau disebut juga bakteri anaerobic. “Untuk itu dalam gester hanya boleh ada veses, air, dan urine, sedangkan bahan kimia seperti ditergen, pestisida, anti biotic dan bahan kimia lainnya tidak boleh”, ucap Ida Royani, SPT, staf ahli Pengembangan Sapi Perah dan SDM. Bahan-bahan kimia tersebut akan membunuh bakteri anaerobic, sehingga pembentukan gas methan menjadi tidak sempurna. Dia menegaskan, “Kita tidak membutuhkan bahan kimia untuk mempercepat proses biogas ini, hanya butuh veses dan air dengan perbandingan 1:1”. Pada kenyataannya dilapangan kombinasi 1:1 ini sulit dilakukan, “ya gimana, peternak kan mau yang praktis-praktis aja, sulit untuk menakar dengan tepat, dari kandang sendiri feses sudah tercampur dengan urine, dan kemudian untuk membersihkan kandangkan mereka juga sudah mencampur dengan air, mana mau mereka mengukur-ukur, kok kayanya jadi sulit”, ucapnya.

Secara garis besar proses biogas hanya terdiri dari 3 bagian utama, yaitu inlet, gester, dan outlet, terbuktikan bahwa teknologi ini sangat sederhana. Dengan senyumnya Ida menjelaskan dengan tenang proses biogas, “ berawal dari kandang ternak yang menghasilkan bahan baku biogas., kemudian dimasukkan kedalam inlet yang berfungsi sebagai tempat terkumpulnya kotoran ternak, yang kemudian dihubungkan dengan bentuk saluran yang mengalirkan kotoran ke dalam gester”. “Nah, dalam gester inilah terbentuk biogas”, ujarnya. Model bangunan gester yang di gunakan warga Malang tertanam rapi dalam tanah, yang tampak di permukaan hanya bagian inlet dan outlet. Dalam outlet inilah veses melepaskan gas methan sebagai biogas. Veses yang telah mengeluarkan gas methan akan di keluarkan, “dari gester, ampas veses yang tertekan dengan gas akan keluar otomatis ke outlet”, tambah Ida. Ampas kotoran yang tertampung kedalam outlet ini sudah tidak berbau, dan dapat digunakan sebagai pupuk atau pakan ternak.

Pembentukan gas berlagsung selama 24 jam, banyaknya gas yang diperoleh tergantung dari banyaknya limbah ternak, tapi perlu diingat banyaknya limbah juga harus diikuti dengan besarnya gester. Jika daya tampung gester melebihi limbah, maka gas yang terbentuk tidak sempurna, dan ampas limah masih mengandung methanol.

Untuk membangun instalasi biogas ini perlu disesuaikan dengan jumlah ternak, karena terkait dengan jumlah kotoran yang di hasilkan. Selain itu besarnya instalasi juga mempengaruhi jumlah modal yang di keluarkan peternak, “untuk awalnya mungkin mereka harus modal besar tapi dampak selanjutnya lebih menguntungkan”, jelasnya. Misal saja, untuk peternak yang memiliki 3-5 ekor sapi bisa membangun instalasi dengan modal awal sekitar 3,5 juta rupiah, untuk yang memiliki 12-16 ekor sapi perlu modal sekitar 14 jutaan.

Manfaat biogas

Jika ingin berhitung ekonomis, alternatif biogas ini sangat menguntungkan, selain menguntungkan lingkungan, dan terutama untuk masyarakat. Jika dulu harus mengeluarkan dana untuk membeli gas elpiji atau kayu bakar, sekarang masyarkat dapat memenuhi dengan biogas, dengan biaya nol, alias gratis, 24 jam.

Yang sangat terlihat jelas adalah lingkungan kandang menjadi bersih, bebas lalat dan bau. “Dulu sebelum ada instalansi, kotoran ternak berantakan di mana-mana, sekarang semua kotoran ternak di alirkan menjadi satu dalam inlet, jelas tidak ada lalat lagi sekitar kandang”, celetuk Santoso.

Biogas merupakan teknologi energi alternatif ramah lingkungan, semua limbahnya bisa di gunakan dan tidak merusak lingkungan. Veses yang terambil ga methannya menjadi tidak berbau lagi, dan bisa digunakan untuk pangan ternak (sapi dan lele) juga digunakan sebagai pupuk. “Pada musim kemarau limbah veses di jemur dan dijadikan pupuk kering untuk pupuk tanaman tebu, pakan ternak (rumput gajah), dan kopi, yang masih basahpun sebenarnya bisa langsung di gunakan”. Nah, perlu dipastikan bahwa gas methan yang terdapat pada veses benar-benar sudah terbuang, karena gas methan ini dapat mematikan tanaman.

Selain itu secara tidak langsung teknologi biogas ini dapat mengurangi kegundulan hutan, “Dulu masyarakat memenuhi kebutuhan energinya menggunakan kayu bakar, dalam sehari mereka membutuhkan 2 pikul kayu bakar untuk satu keluarga, bisa di bayangkan berapa banyak kayu yang harus di tebang?”, jelas Santoso. Nah, sejak masyarakat menggunakan teknologi biogas ini kebutuhan akan kayu bakar dengan sendirinya semakin menurun.

Harapan dan Kendala

Kendala yang dihadapi saat ini adalah masalah desain packing dan dana, biogas masih digunakan dalam skala rumah tangga. “Selama ini yang bisa menikmati biogas hanya yang memiliki ternak, sedang warga yang tidak punya belum bisa menggunakan, masih bingung untuk packingnya”, tandas Sutarno. Untuk bisa menggunakan biogas rumah warga harus disambungkan dengan pipa gas dari gester.

Kedepan Susanto dan rekan-rekan KAN Jabung mengharapkan ada investor yang menanamkan modal untuk mengembangkan teknolgi biogas ini, dengan demikian masyarakat yang tidak punya gester ataupun ternak tetap dapat menggunakan biogas ini. “Kami berharap pada pemerintah, program swadaya biogas bukan tanggungjawab masyarakat dan kopersi saja, jadi diharapkan ada penanganan khusus dari pemerintah disektor ini, karena dengan satu titik ini bisa mengamankan keamanan hutan bisa terjaga, jika hutannya lestari maka mampu menyimpan air lebih banyak, dengan begitu saat musim kemarau ini masyarakat tidak kekurangan air bersih setiap harinya..,” ucap Santosa.

(dw, Komunika, tahun 2007)

Rabu, 18 Juni 2008

Industri sawit, tersanjung atau tersandung?

Oleh: Martin Sihombing

Enam lembar daftar perusahaan asing yang meminati perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia bergeser dari tangan pejabat di Pusat Perizinan Investasi (PPI) Deptan ke tangan wartawan Bisnis Indonesia. "Wow..." Begitu saat rekan saya itu memperlihatkan daftar itu kepada saya.

Dalam lembar itu, tertera nama 44 perusahaan asing-terbanyak (16) perusahaan asal Malaysia-yang mengincar perkebunan seluas 0,44 juta hektare (ha). "Mereka antusias," kata seorang pejabat Deptan.

Terutama Malaysia, bukan hanya yang kecil, melainkan juga perkebunan besar mereka memang terus 'menggempur' lahan kelapa sawit di Tanah Air. Belum lama ini, IJM Plantations Berhad's, melalui anak usahanya, Gunaria Sdn Bhd, misalnya, menyepakati pengambilalihan (akuisisi) 95% saham perusahaan perkebunan sawit Indonesia, PT Zarhasih Kaltim Perkasa (ZKP) senilai Rp2,85 miliar (US$313,359), cash.

Total investasi Sime Darby Bhd, yang mulai menggarap kebun kelapa sawit Indonesia sejak 1998 seluas 270.000 ha, termasuk mengakuisisi perkebunan sawit milik konglomerat Salim, di Indonesia US$1,2 miliar. Pada awalnya, investasi perusahaan asal negeri jiran, Malaysia mencapai US$400 juta.

Komisaris Utama Sime Darby Bhd, Tun Musa Hitam mengakui pintu investasi di bidang perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih sangat terbuka lebar. Dia menunjuk ada tiga daerah yang memiliki potensi untuk dikembangkan, yakni Kalimantan, Riau, dan Jambi.

Antusiasme ini nyaris sama dengan kejadian 1996. Pada tahun itu, Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soeharto merencanakan untuk mengalahkan Malaysia sebagai pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di dunia dengan cara menambah luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia dua kali lipat, menjadi 5,5 juta hektare pada 2000. Separuh dari luasan perkebunan kelapa sawit ini dialokasikan untuk perusahaan perkebunan swasta asing.

Bedanya, pada 1996, berkembangnya subsektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak lepas dari adanya kebijakan pemerintah yang memberikan berbagai insentif. Terutama kemudahan dalam perizinan dan bantuan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat pola PIR-Bun dan dalam perizinan pembukaan wilayah baru untuk areal perkebunan besar swasta.

Kini, kendati ada insentif berupa subsidi bunga kredit melalui program Revitalisasi Perkebunan, tetapi lebih banyak karena permintaan crude palm oil (turunan pertama dari kelapa sawit) yang melonjak. Sebab banyak negara menggelar program biodiesel, solusi mengatasi kian mahalnya harga minyak fosil dan berkurangnya produksi.

Di sisi lain, meminjam istilah Ketua Harian Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Rosediana Suharto, kenaikan harga CPO tidak melulu karena harga minyak mentah.

Harga minyak

Minyak kedelai dan minyak rape yang banyak digunakan di Eropa, Amerika Serikat, China, dan lain-lain sebagai bahan makanan dan juga kebutuhan nonpangan lainnya a.l. bahan bakar yang dapat diperbarui.

Karena permintaan yang cukup besar di negara yang pada umumnya beriklim subtropis tersebut, produksi dan harga dari kedua minyak sayur itu menjadi tinggi dan memengaruhi harga minyak dan lemak lainnya yang a.l. minyak sawit.

Tak ayal, mereka yang semula tidak menggeluti industri minyak sawit, kini berduyun-duyun masuk. Kini, harga satu kavling perkebunan kelapa sawit pun, terutama di Riau dan Jambi misalnya, melonjak dari Rp25 juta menjadi Rp40 juta.

Bahkan, di kedua provinsi itu, banyak petani di daerah menolak untuk diwawancarai wartawan karena takut diserbu orang kota yang berduit.

Di luar grup usaha besar yang lebih dulu berkecimpung di sawit-Bakrie, Sinar Mas, Salim Grup, Asian Agri, Wilmar, London Sumatera, Astra Agro Lestari, Sampoerna Agro-kini Barito pun mulai mengincar dan Charoen Pokhpand.

Termasuk PT Inti Kapuas Arowana Tbk (IIKP) yang memutuskan untuk melakukan investasi pada bidang perkebunan kelapa sawit. Setelah mempelajari hasil kajian usaha di bidang kelapa sawit yang dilakukan oleh PT Agrindo Management Services, perusahaan itu memutuskan investasi di perkebunan kelapa sawit.

IIKP merupakan perusahaan yang menekuni industri ikan hias, khususnya arwana. Dalam usahanya itu IIKP melakukan usaha penangkaran ikan arwana di Pontianak.

Namun, banyak hal yang harus diwaspadai. Kasus yang pernah terjadi dan menjadi modal pihak pesaing untuk mendiskreditkan industri ini tidak ramah lingkungan, perlu ditekan.

Di industri minyak sawit, dikenal biaya sosial (social costs). Biaya ini timbul sebagai akibat terjadinya permasalahan dan atau konflik sosial dalam pelaksanaan kegiatan tertentu. Misalnya, biaya yang harus dikeluarkan karena terjadinya konflik lahan antara perusahaan perkebunan dan masyarakat lokal yang tinggal di lokasi pembangunan perkebunan kelapa sawit.

Konversi hutan

Pasalnya, kasus itu, pernah terjadi dan banyak dilakukan karena lahan yang tersedia dan cocok untuk sawit sangat terbatas, akibatnya harus mengonversi hutan.

Pada 1999, misalnya, hutan produksi terbatas yang telah dikonversi menjadi areal perkebunan sampai Maret 1999, mencapai 166.532,25 hektare (ha). Terluas di Riau, 94.616,45 ha disusul di Jambi seluas 27.675 ha, Aceh 17.635 ha, Sumut 10.903,80 ha, dan Maluku 3.840 ha.

Bahkan, menurut catatan Dephut (1999), total areal hutan yang telah dikonversi untuk perkebunan sampai Maret 1999, 4,06 juta ha dan total areal perkebunan kelapa sawit hingga 1998, 2,77 juta ha.

Dari areal konversi 4,06 juta ha itu, konversi terluas terjadi di Riau, 1,53 juta ha, Kaltim 434.738,37 ha, dan Kalteng 428.053,89 juta ha.

Secara keseluruhan di antara lima pulau terbesar di Indonesia, pada saat itu, konversi terluas terjadi di Sumatra seluas 2,55 juta ha disusul Kalimantan 1,41 juta ha.

Dengan segala persoalannya, jika tidak diantisipasi, contoh kasus terakhir itu justru akan menjadi sandungan bagi industri minyak sawit. Bukan sanjungan. Waspadalah, waspadalah... (martin.sihombing@bisnis.co.id)

Kenaikan Harga BBM: Pengalaman Kemiskinan yang Berbeda

Oleh: Ninuk Mardiana Pambudy

Kenaikan harga BBM telah menaikkan harga-harga lebih dalam lagi dan menimbulkan dampak berbeda pada perempuan dan laki-laki.

Di Desa Koro Welang Anyar, Kecamatan Cepiring, Kendal, Jawa Tengah, misalnya, kenaikan harga BBM menyebabkan nelayan mengganti solar dengan minyak tanah dengan risiko mesin menjadi cepat rusak. Tetapi, penggantian hanya untuk mesin motor merek Dong Feng yang harga suku cadangnya lebih murah dari motor buatan Jepang.

”Keadaan kami benar-benar sangat susah,” kata Siti Yamroh menekankan kesulitan yang dialami keluarga nelayan di sana. Ketua Kelompok Tani-Nelayan Mina Sari yang beranggotakan 35 perempuan itu mencontohkan, saat ini sebetulnya bukan musim paceklik, tetapi hasil tangkapan nelayan seperti saat paceklik.

Yang lumayan bagus hasilnya adalah teri nasi, harganya mencapai Rp 50.000 per kg, tetapi hasil tangkapan hanya 10-15 kg. Alhasil, uang yang dibawa pulang sekitar Rp 15.000.

Maka, para istri pun harus kerja lebih keras lagi. Yang tidak punya lahan pertanian, cara mendapat uang memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah dengan memburuh tani atau memburuh mengolah ikan asin.

”Upahnya Rp 10.000 kalau kerja dari jam tujuh sampai jam 12. Kalau sampai jam empat sore Rp 17.000,” papar Yamroh.

Di tengah impitan hidup itu, perilaku para nelayan tak banyak berubah. ”Kalau punya uang, dihabiskan untuk minum atau pergi ke perempuan lain. Kalau lagi musim sulit seperti sekarang, tidak bawa uang sama sekali ke rumah,” tutur Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Jawa Tengah itu lagi.

Dalam situasi ini, perempuan harus ”mengalah”. Dia yang dituntut memperbaiki diri untuk membuat suami betah di rumah dengan berdandan, memasak enak, membuat rumah rapi, sampai mencucikan baju suami, sementara juga harus bekerja di luar rumah membantu pendapatan keluarga.

Tidak berarti

Kesulitan yang dihadapi perempuan tidak khas Cepiring. Perkumpulan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) di delapan provinsi yang berjumlah 10.000 orang dan kebanyakan janda langsung tertohok kenaikan harga BBM.

”Mereka bilang, kenaikan pendapatan yang sudah mereka peroleh seperti hilang tertelan kenaikan harga-harga kebutuhan pokok akibat kenaikan harga BBM,” kata Koordinator Pekka Nani Zulminarni.

Melalui Pekka mereka belajar memperbaiki ekonomi melalui kelompok dan dana bergulir. Penghasilan mereka berhasil naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 15.000-Rp 20.000 per hari. Tetapi, kenaikan penghasilan itu langsung tertelan kenaikan harga barang-barang.

”Sepertinya apa pun yang kami lakukan di tingkat mikro, di lapangan menjadi tidak ada artinya kalau kebijakan di tingkat makro sewenang-wenang. Bantuan langsung tunai (BLT), misalnya, maksudnya untuk jaring pengaman sosial, tetapi tidak ada sistem yang andal yang menjamin masyarakat miskin terlindungi. Hasilnya juga tidak terlalu terasa. Apa pemerintah akan sanggup terus memberi bantuan seperti itu,” ungkap Nani.

Untuk petani, keadaan juga tidak mudah. Kenaikan harga BBM terjadi saat memasuki musim kering. Di Desa Rancahan, Kecamatan Gabus Wetan, Indramayu, Jawa Barat, Sakilah, Ketua Kelompok Tani Srikandi yang beranggotakan 25 perempuan, mengatakan, saat ini banyak petani tak bisa berbuat apa-apa.

”Kira-kira 350 ha sawah yang sudah ditanami kini kering. Mudah-mudahan masih ada hujan supaya bisa menghasilkan. Di sana ada 70 patok pompa air, tetapi pompanya tidak ada. Mau sewa, harganya mahal. Sekarang Rp 35.000 sehari, ditambah Rp 50.000 ongkos untuk yang jaga malam hari. Belum termasuk harga solar yang sekarang mahal,” tutur Sakilah.

Meski begitu, Sakilah tidak mau menyerah. Informasi tentang bertanam padi di ember di halaman rumah memberi dia semangat bertanam padi organik di ember. ”Tidak tergantung pupuk pabrik, cukup pakai limbah dapur. Hasilnya bisa 0,5 kg sekali panen. Tetapi, ember harganya mahal, Rp 5.000 sebiji. Cari polybag enggak ketemu, sudah sampai ke Cirebon dan Subang,” kata Sakilah.

Berbeda

Berbagai penelitian memperlihatkan perempuan mengalami kemiskinan dengan cara berbeda dari laki-laki. Penelitian Marianti dan Fillaili dari SMERU di Timor Barat yang ringkasannya dimuat dalam Newsletter SMERU, Oktober 2007, memperlihatkan, jumlah perempuan kepala rumah tangga yang menurun kesejahteraannya dan cenderung tetap miskin lebih besar daripada laki-laki kepala rumah tangga. Perbedaan dalam kepemilikan aset (tanah dan ternak), tingkat pendidikan, dan tingkat melek huruf menyebabkan perbedaan itu.

Persepsi mereka tentang penyebab kemiskinan ternyata berbeda. Perempuan menganggap fisik yang menua dan hilangnya pencari nafkah dalam keluarga karena kematian suami, perceraian, ataupun perpisahan sebagai penyebab kemiskinan, sedangkan laki-laki menyebut persoalan ekonomi dan juga fisik yang menua.

Tentang faktor yang dapat meningkatkan kesejahteraan, keduanya menyebut peningkatan pendapatan melalui kerja keras dan usaha baru yang lebih baik, serta berkurangnya tanggungan dalam keluarga.

Karena itu, bila pemerintah bermaksud membangun jaring pengaman sosial untuk masyarakat miskin, caranya tidaklah sesederhana memberi BLT. Kebijakan dan program pembangunan harus mampu melihat perbedaan pengalaman perempuan dan laki-laki dalam menghadapi kemiskinan sehingga cara mengatasinya pun seharusnya tidak sama rata.

URL Source: http://cetak.kompas.com

Selasa, 17 Juni 2008

Ketahanan Pangan : Membayar Subsidi dengan Pola Ijon

Oleh: Banu Astono

p>Beberapa hari lalu, Bank Dunia secara tegas memberikan sinyal bahwa cadangan pangan Indonesia dalam titik terendah. Apabila hal ini tidak segera ditangani sejak awal, persoalan pangan di Indonesia akan menjadi masalah yang serius. Untuk itu, pemerintah harus segera menyiapkan strategi khusus yang lebih fokus.

Deputi Bidang Koordinasi Pertanian dan Kehutanan sekaligus Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Penanggulangan Kemiskinan Bayu Krisnamukti tidak menampik informasi itu. Bahkan, kata Bayu, pihaknya sudah memberikan peringatan mengenai kondisi itu sejak Juni 2007.

Pengakuan Bayu sepertinya menggugah kita semuanya. Seharusnya cadangan pangan di Indonesia tidak terjadi seperti itu. Selama negeri ini masih memiliki matahari, air, dan tanah, pengadaan pangan bukan masalah yang sulit. Bahkan, Indonesia seharusnya menikmati hal yang sebaliknya, yakni menikmati tingginya harga pangan.

Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Joachim von Amsberg dalam situs Bank Dunia memberikan gambaran bahwa Indonesia jauh lebih stabil dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Indonesia diperkirakan hanya akan mengalami dampak krisis pangan lebih singkat serta jauh lebih mampu meningkatkan produktivitas dan melakukan stabilisasi harga sejumlah komoditas tersebut.

Menurut Joachim, negara dengan kekayaan alam seperti Indonesia, kenaikan harga komoditas pangan justru menjadi peluang penting menyiapkan strategi untuk meningkatkan investasi dan mengentaskan rakyat miskin.

Menyiapkan strategi

Melihat tren kenaikan harga pangan yang demikian tajam, Pemerintah Indonesia harus segera menyiapkan strategi khusus yang lebih fokus.

Apalagi tren harga minyak di pasar dunia terus meningkat di atas 130 dollar AS per barrel. Kenaikan ini akan mendorong berbagai negara mengalihkan penggunaan energi fosil ke biofuel.

Brasil, misalnya, selama tahun 2006-2007 mengembangkan budidaya tebu di areal seluas 3,6 juta hektar dari total lahan pertanian seluas 355 juta ha untuk memproduksi 5,019 juta galon metanol.

Amerika Serikat juga menyediakan 10 juta ha lahan dari 270 juta ha lahan pertaniannya untuk tanaman jagung untuk memproduksi 6,498 juta galon etanol.

Dampaknya, stok produk pertanian seperti beras, jagung, kedelai, dan gandum untuk pangan terus menurun. Hal ini memberikan tekanan yang kian kuat pada komoditas beras sebagai alternatif utama untuk pangan di beberapa negara Asia.

Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) menunjukkan, bagaimana pertumbuhan produksi dan luas areal pertanian di dunia tetap meningkat, tetapi tidak mampu memperbesar stok pangan dunia. Bahkan, dalam delapan tahun terakhir, volume stok beras dunia terus melorot.

Sebagai gambaran, volume produksi beras dunia dalam lima tahun terakhir terus meningkat. Produksi beras tahun 2003 mencapai 377,8 juta ton naik menjadi 418,1 juta ton pada tahun 2006. Tahun 2007, volumenya melorot jadi 417,1 juta ton, tetapi tahun ini diprediksi naik sedikit menjadi 421,2 juta ton.

Data UNDP menunjukkan, selama 50 tahun terakhir, jumlah penduduk di Asia bertambah hampir tiga kali lipat, yakni dari 1,4 miliar jiwa menjadi 4 miliar jiwa. Akibatnya, konsumsi beras meningkat tajam.

Dampaknya, stok beras dunia dalam delapan tahun terakhir melorot tajam. Tahun 2001, stok beras dunia masih 147,3 juta ton. Tahun 2005, stok beras melorot jadi 74,9 juta ton. Tahun 2007, stoknya jadi 76,3 juta ton. Estimasinya stok dunia pada tahun ini turun lagi jadi 74,1 juta ton.

Kondisi Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini akan menghadapi persoalan pelik jika tidak menyiapkan program komprehensif dalam peningkatan produktivitas pangan nasional. Sampai sekarang, Indonesia tidak memiliki visi yang jelas dalam program pertanian.

Hal itu terlihat jelas dari kecilnya nilai subsidi yang diberikan di sektor pertanian. Tidak jelasnya perlindungan pemerintah terhadap petani dalam bentuk subsidi biaya produksi serta tidak adanya perbaikan sarana dan prasarana pertanian yang memadai.

Bandingkan dengan China. Keberpihakan Pemerintah China terhadap petaninya begitu besar. Pemerintah negeri ini sadar betul harus berpihak kepada petani demi keamanan pangan bagi 1,2 juta miliar penduduknya.

Untuk itu, Pemerintah China memberikan subsidi Rp 3 juta per ha setiap petani tanaman pangan per musim.

Selain itu, Pemerintah China juga melakukan proteksi ketersediaan pupuk di dalam negeri dengan menaikkan pajak ekspor berbagai produk pupuk sebesar 100-135 persen. Dengan demikian, harga pupuk di China menjadi murah.

Sementara di Indonesia perlindungan terhadap sektor pertanian setengah hati. Pemerintah hanya memberikan subsidi pupuk. Nilainya pun hanya Rp 6,7 triliun meskipun ada rencana untuk menaikkannya menjadi Rp 14 triliun dalam APBN Perubahan 2008, tetapi tetap saja nilainya jauh dari memadai.

Hasilnya pun bisa dirasakan sampai saat ini. Sektor pertanian tak pernah bertumbuh dengan baik. Produktivitas berasnya pun terendah dari seluruh negara produsen beras di Asia.

Menurut data Asosiasi Pupuk Dunia (IFA), tingkat produktivitas beras China mencapai 4,29 ton per ha, Banglades 3,7 juta ton per ha, India 3,28 ton per ha, sementara Indonesia hanya 2,88 ton per ha.

Jika Pemerintah Indonesia ingin mengamankan stok pangan nasional, mengisi pasar dunia dalam kaitan merebut momentum kenaikan harga komoditas pangan, berbagai prasyarat harus dipenuhi, di antaranya meningkatkan produktivitas beras dari 2,88 ton per ha menjadi 3,5 ton per ha.

Untuk itu, pemerintah harus melakukan program agar petani bisa mendapatkan benih unggul yang tepat, alokasi subsidi pupuk yang cukup, infrastruktur pengairan dan pestisida yang baik, kawalan bimbingan penanaman oleh penyuluh pertanian, serta insentif bagi petani tanaman padi.

Katakan asumsinya untuk pengadaan benih unggul Rp 5 triliun. Susbidi pupuk dinaikkan satu setengah kali menjadi Rp 21 triliun, tenaga penyuluh pertanian sebanyak 5 orang per kabupaten per orang Rp 2 juta, maka totalnya mencapai sekitar Rp 250 miliar.

Insentif pertanian sebesar Rp 1 juta untuk per ha kali 12 juta ha, maka totalnya Rp 12 triliun. Total dana yang dikeluarkan hanya Rp 38,25 triliun.

Namun, dengan stimulan itu lahan meningkat 0,7 ton per ha atau sekitar 8,4 juta ton beras dari lahan seluas 12 juta ha. Katakan nilai beras di pasar dunia mencapai 1.000 dollar per ton, devisa yang bisa diraup sebesar 8,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 75,6 triliun.

Berarti ada surplus 37,35 dollar AS. Artinya, jika mengacu pada pola ijon petani, uang dalam bentuk subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah kepada petani pada akhirnya bisa dibayar kembali dengan nilai yang jauh lebih besar. Keuntungan lainnya, tidak perlu impor, penghasilan petani meningkat, dan devisa negara justru bertambah.

Kenapa pemerintah tidak menempuh jalan ini. Kalaupun tidak saat ini, paling tidak bisa dimulai oleh presiden terpilih mendatang yang lebih berpihak kepada petani.

URL Source: http://cetak.kompas.com

Senin, 16 Juni 2008

Krisis Pangan sebagai Berkah

Oleh: F Rahardi



Jakarta, Singapura, Tokyo, dan New York tidak punya sawah, tidak punya ladang, dan tidak dihuni petani. Namun, beras dan gandum menumpuk di sini dengan harga relatif murah. Sementara itu, petani terpaksa harus membeli produk dan jasa para penghuni metropolis dengan harga sangat tinggi.

Tahun-tahun 1998 sampai 2000 selalu disebut sebagai periode krisis moneter (krismon). Makna dari krismon adalah harga produk kebutuhan pokok melambung, PHK terjadi di mana-mana, dan nilai kurs rupiah terhadap dollar AS mencapai Rp 16.000 per 1 dollar. Bagi masyarakat Jakarta, Surabaya, dan metropolis di Jawa, periode 1998-2000 adalah krisis. Sebaliknya, para petani cengkih, lada, pala, jahe, pepaya, dan juga padi menganggap tahun 1998-2000 sebagai berkah.

Sebab, harga cengkih, lada, dan pala, yang sebelumnya di bawah Rp 20.000 per kg, pada tahun 1999 melambung sampai di atas Rp 100.000 per kg. Pepaya, yang sebelumnya hanya Rp 50 per kg, naik menjadi Rp 250 per kg. Petani menjadi sangat makmur. Pasar utama, seperti mobil, sepeda motor, kulkas, dan televisi, bergeser ke sentra pertanian. Karena produksi mobil dan sepeda motor baru sangat terbatas, yang bekas pun laris manis di Sumatera, Kalimantan, dan terutama Sulawesi.

Sayangnya petani tidak punya media massa. Wartawan pun bukan bagian dari petani, peternak, nelayan, dan perajin yang tahun- tahun itu menerima berkah. Wartawan termasuk pihak yang mengalami krisis. Sebab, halaman media cetak menyusut akibat harga kertas naik. Jam siaran radio dan jam tayang televisi dibatasi. Iklan tersendat. Nafkah wartawan terancam. Maka isu yang diekspos media massa nasional adalah krisis ekonomi. Bukan berkah bagi petani.

Ketakadilan nilai tukar

Perkembangan sarana komunikasi dan transportasi telah menciptakan tidak adilnya nilai tukar. Petani menjual gabah dengan harga Rp 1.000 per kg. Meskipun harga dasar yang ditetapkan pemerintah mencapai Rp 2.000 per kg, harga jagung dan singkong malahan lebih rendah lagi. Lalu, petani harus membeli mi dan roti, yang nilai per kilogramnya mencapai Rp 5.000. Belum lagi kalau petani memerlukan sabun, batu baterai, minyak goreng, dan lain-lain, yang harganya beberapa kali lipat harga padi.

Salah satu medium yang mengakibatkan nilai tukar tak seimbang adalah radio dan televisi. Petani yang tinggal di kampung paling pelosok pun sudah bisa mendengarkan radio dan menonton siaran televisi. Hingga anak-anak petani itu harus membeli CD atau DVD musik dan film dari bintang idola mereka. Mereka juga perlu celana jin, t-shirt, deodoran, sampo, sepeda motor, telepon seluler, dan semua pernik yang tiap hari muncul di layar televisi. Meski nilai tukar tak seimbang, ini masih lumayan.

Yang terjadi di banyak tempat, terutama di pinggiran kota atau di sekitar kawasan wisata, petani menjual tanah mereka untuk dibelanjakan ”produk kota”. Alat produksi itulah yang mereka korbankan untuk ditukar dengan simbol-simbol metropolis. Kemubaziran nasional lalu terjadi. Sawah berubah menjadi vila yang hanya dihuni seminggu sekali. Petani yang sebelumnya produsen pangan, sekarang menjadi penunggu vila yang tak perlu lagi memikirkan produktivitas

Ketakadilan global

Jakarta selama ini dianggap sebagai kekuatan ekonomi nasional. Hingga ketakadilan bisa mudah diciptakan agar penghuni metropolis ini tetap bisa menikmati pangan murah. Sementara itu, produk barang dan jasa yang mereka hasilkan dihargai sangat tinggi di pelosok kampung. Meski terjadi ketakadilan, ini semua masih bisa dianggap normal. Kalau Singapura yang negeri pulau atau Jepang yang negara industri mengimpor sandang dan pangan, itu normal.

Kalau kemudian negara berkembang menyuplai produk pangan ke Singapura dan Jepang, itu juga normal. Meski produk pangan tersebut tak dihargai setinggi produk barang dan jasa dari negeri maju tersebut. Kalau sekarang ini dianggap sedang ada krisis pangan, krisis itu berlaku untuk penduduk metropolis. Bagi petani, krisis pangan adalah berkah. Kalau harga beras melambung sampai Rp 10.000, itu berkah bagi petani. Sebab, penduduk metropolis memang harus membayar mahal kepada para petani.

Namun, Indonesia tidak mungkin menangkap peluang krisis pangan global ini sebagai berkah. Idealnya, Indonesia mengekspor produk pangan ke AS meski dengan harga murah, lalu AS menjual produk barang dan jasa berteknologi tinggi ke negeri kita. Misalnya, pesawat terbang, komputer, musik, dan film Hollywood. Yang terjadi, kita justru impor gandum, kedelai, bungkil, induk ayam ras, susu bubuk, kapas, apel, dan jeruk dari AS.

RRC dan India

AS sebenarnya lebih senang mengekspor produk sandang serta pangan mereka ke RRC dan India. Sebab, populasi penduduk dua negeri ini di atas 1 miliar jiwa. Dua negeri raksasa ini ternyata cukup cerdik. Mereka bisa surplus sandang dan pangan. Belajar dari zaman Mao yang lapar dan susah, RRC kemudian menanam gandum, padi, jagung, kentang, ubi jalar, bahkan juga biji bayam (amaranth grain). Mereka menanam kapas, rami, dan canabis untuk sandang.

Canabis sebenarnya ganja, tapi bukan untuk memproduksi narkoba, melainkan diambil serat batangnya untuk sandang dan bijinya untuk bungkil. India selain punya gandum dan beras juga rajin mengurus aneka umbi-umbian, terutama suweg (Amorphophallus paeoniifolius). Sekarang RRC adalah penghasil gandum, beras, kentang, dan ubi jalar terbesar di dunia. Gandum dan beras India nomor dua. Masih beruntung Indonesia jadi penghasil beras nomor tiga.

Namun, kita harus mengimpor gandum sebanyak 5 juta ton per tahun. Padahal, secara teknis ataupun ekonomis, kita bisa menanamnya. Sebab, memang ada gandum tropis dari India dan Meksiko. Kita juga pernah mendatangkan dan mengembangkan gandum tropis tersebut, tapi tujuannya sekadar untuk seremonial. Belum lagi kedelai, bungkil, bahkan juga beras. Kalau sekarang ini kita ribut ingin ekspor beras, itu semua tak sebanding dengan impor gandum kit

Lowongan Kepala Afdeling

Kepala Afdeling PT Union Sampoerna Triputra Persada                          Requirements Berusia antara 25 - 35 tahun Pendidik...