Kamis, 01 Juli 2010

Lowongan Plasma Manager

DIBUTUHKAN SEGERA


Kami sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit kantor pusat di Jakarta dengan lokasi kebun di Bangka, Belitung, Kalimantan, dan Sulawesi, membutuhkan segera tenaga kerja berpengalaman sebagai professional muda dengan mengisi posisi sebagai berikut:


MANAGER PLASMA


Persyaratan:


  • Pendidikan S-1 Sarjana Pertanian jurusan Agronomi dan Sosek

  • Usia maksimal 45 tahun

  • Pengalaman menangani kemitraan dan penyuluh plasma minimal 3 tahun

  • Mengerti administrasi kemitraan plasma (keanggotaan, kredit, dan sertifikasi)

  • Mengerti kelembagaan kemitraan/perkoperasian

  • Mengerti perizinan dan UU perkoperasian

  • Tidak terikat dengan perusahaan lain

  • Sehat jasmani dan rohani

  • Bersedia melakukan medical check up

  • Bersedia melakukan perjalanan dinas ke Site Office (SO)

  • Penempatan Head Office (HO) Jakarta


Send your cv to :
Email : misran.mdn@gmail.com

Rabu, 30 Juni 2010

Lowongan Plantation/Agronomy General Manager

The position is open to Malaysian or Indonesian Citizen Candidate must have a positive enthusiastic attitude, strong leadership, high integrity, ambitious, fast, accurate and a hard working team player, strong communication, interpersonal and facilitations skills with the ability to drive change and communicate to all level internally and externally

We are established and developed company in Palm Oil Plantation ± 25.000 Ha (Perkebunan Kelapa sawit) located at Central Kalimantan looking for motivated, hardworking, and high quality individual to join our team of professionals to the following positions:
Plantation/Agronomy General Manager
(Code: PAGM)
(Kalimantan Tengah)
Responsibilities:
  • Planning development and production and implementation of economic, conclusion of target (yearly, monthly etc.) for quantity, quality, schedule and budget. Develop the overall development (nursery, land clearing, mature and immature) and production component and manage all participatory steps of its development and production, implementation with project time tables and evaluation.
  • Reporting directly to Board of Director by weekly and monthly report.

Requirements:

  • Degree holder in agronomy or related discipline.
  • Minimum 6 years experience of Plantation/Agronomy General Manager with minimum 10,000 Ha, proactive and self motivated.
  • Based in our site plantation in Central Kalimantan

If you meet the above requirement and are interested candidates are invented to send your CV, photographs and previous and expected salary with position code within one week to:

E-mail: recruitment_plantation@yahoo.com
and
PO. BOX: 1265 JKT 10012

only short listed applicants will be notified. All applications will be treated confidential and only use for the purpose of selection.

Lowongan Estate Manager

Kami perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit (± 25.000 Ha) yang berlokasi di Kalimantan Tengah yang sedang berkembang memberikan kesempatan bagi Anda yang dinamis dan menyukai tantangan untuk posisi sebagai berikut :

Estate Manager
(Code: EM)
(Jakarta Raya)

Requirements:



  • Pria dengan usia minimal 35 tahun dan maksimal 45 tahun, bergelar sarjana dari universitas dengan keahlian agronomi (perkebunan/pertanian), minimal pernah menjabat sebagai Estate Manager selama 4 tahun.

  • Profesional, memiliki jiwa kepemimpinan, integritas tinggi dan kepribadian/attitude yang baik dimana mampu menangani produksi, land clearing, pembibitan dan perawatan perkebunan standar dengan luasan yang ditangani 3000-4000 Ha.

  • Fokus terhadap pekerjaan.

  • Terbiasa membuat rencana/program kerja, budget beserta laporannya.

  • Mampu bekerja berdasarkan target, deadline dan time schedule serta mampu menentukan unit price yang standard pada setiap fase pembangunan dan produksi.

Jika Anda memenuhi kriteria diatas, segera kirimkan Surat Lamaran anda lengkap dengan CV berserta Pas Foto, gaji yang diinginkan dan posisi jabatan paling lambat 1 minggu ke:


E-mail: recruitment_plantation@yahoo.com
dan
PO. BOX: 1265 JKT 10012

Senin, 14 Juni 2010

Selamat Tinggal Gerontokrasi

Gerontokrasi dimaknai sebagai bentuk kepemimpinan yang dipegang kaum tua. Apakah gerontokrasi merupakan gejala yang buruk? Banyak kalangan menolak asumsi ini karena kesuksesan suatu kepemimpinan tak bisa diukur dan ditentukan oleh faktor usia melainkan dari kualitas kinerja.

Apa salahnya kepemimpinan dipegang orang tua jika kinerjanya bagus? Inilah pertanyaan yang kerap dilontarkan pada pihak-pihak yang mempersoalkan gerontokrasi. Sebenarnya, pertanyaan sejenis bisa diajukan. Apa salahnya kepemimpinan dipegang anak muda jika kinberjanya bagus?

Dengan menyandingkan kedua pertanyaan itulah kita bisa membahas gerontokrasi secara lebih proporsional. Mana yang lebih baik, kepemimpinan orang tua yang kinerjanya bagus, atau kepemimpinan orang muda yang kinerjanya bagus? Karena kepemimpinan lebih merupakan seni mengelola sumberdaya yang banyak dimensinya maka ada sedikit kerumitan pada saat kita harus membedakan mana yang lebih bagus, yang muda atau yang tua.

Secara umum, yang tua lebih arif, yang muda lebih gesit. Tapi, banyak juga fakta di lapangan malah terjadi kebalikannya, yang muda lebih arif, atau yang tua lebih gesit. Kita ambil contoh Jusuf Kalla, dari segi usia sudah tua, tapi dalam soal kegesitan, mantan Wapres ini bisa melebihi pemimpin lain yang jauh lebih muda. Atau yang baru-baru ini terjadi dalam Kongres Partai Demokrat. Di antara kandidat ketua umum yang maju, Anas Urbaningrum adalah yang paling muda. Tapi dalam menyikapi banyak persoalan, Anas terlihat jauh lebih arif dibandingkan kandidat-kandidat lain yang lebih tua. Terpilihnya Anas, antara lain karena faktor kearifan dan kesantunannya dalam berpolitik, dua sifat yang tampaknya disukai oleh Susilo Bambang Yudhoyono.

Era baru

Terpilihnya Anas Urbaningrum --selain membuktikan kemampuan orang muda memimpin—akan menandai era baru kepemimpinan partai politik, yakni era orang-orang muda. Sebenarnya, sebelum Anas, ada Muhaimin Iskandar yang lebih muda dari Anas pada saat terpilih menjadi Ketua Umum PKB, tapi terpilihnya Cak Imin (sapaan Muhaimin) dinilai banyak kalangan tidak otentik karena ada faktor kehendak Abdurrahman Wahid, Ketua Dewan Syuro yang amat berkuasa di PKB saat itu.

Sejauh yang kita amati, Anas terpilih secara otentik, karena murni hasil proses demokrasi yang ada di internal Partai Demokrat. Keotentikan itulah yang memperkuat asumsi saatnya memasuki era kepemimpinan kaum muda. Partai-partai yang dipimpin kaum tua seperti Partai Golkar (Aburizal Bakrie, 63 tahun), PDI Perjuangan (Megawati Soekarnoputeri, 63 tahun), dan Partai Hanura (Wiranto, 63 tahun), sudah saatnya melakukan regenerasi.

Mengapa era kepemimpinan kaum tua (gerontokrasi) seyogianya kita akhiri? Karena, pertama, gerontokrasi menghambat proses regenerasi. Kedengarannya sederhana, tapi secara psikologis, hambatan regenerasi akan berdampak pada matinya kreativitas generasional. Akan ada satu atau dua generasi yang potensi kepemimpinannya terhambat, tidak tersalurkan secara sehat. Potensi kepemimpinan yang tak tersalurkan secara proporsional akan melahirkan dua kemungkinan buruk, apatisme atau pemberontakan.

Kedua, para pemimpin tua pada umumnya merupakan bagian dari rezim lama yang memiliki hambatan psikologis pada saat dituntut untuk menegakkan hukum yang menyangkut sisa-sisa rezim lama, terutama dalam hal tindak pidana korupsi dan pelanggaran HAM. Padahal menurut Samuel Huntington, peninggalan rezim lama merupakan salah satu penghambat proses demokratisasi. Oleh karenanya, untuk menuju demokrasi yang sejati, memutus hubungan dengan rezim lama (Orde Baru yang cenderung negatif) merupakan keniscayaan.

Tradisi Kepemimpinan Muda

Upaya mencegah makin berlanjutnya gerontokrasi bukan tanpa preseden. Pada era kepemimpinan awal negeri ini, para founding fathers umumnya memimpin pada usia yang masih relatif muda. Sekedar contoh, Soekarno menjadi Presiden pertama RI pada usia 44 tahun, Muhammad Hatta menjadi Wakil Presiden yang mendampingi Soekarno pada usia 43 tahun, Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri pada usia 42 tahun, bahkan Syahrir dan Syafrudin Prawiranegara dalam usia di bawah 40 tahun sudah menjadi Perdana Menteri yang mumpuni.

Dengan melacak sejarah para founding fathers, sejak usia yang masih dini, negeri ini sudah punya tradisi kepemimpinan kaum muda. Dalam konteks ini, sejarah Indonesia bahkan lebih baik jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Di AS, meskipun tampil beberapa pemimpin dalam usia muda seperti John F Kennedy, Bill Clinton, dan Barack Obama, pada umumnya presiden AS tampil dalam usia di atas 50 tahun.

Dalam soal tradisi kepemimpinan yang berbasis usia, AS memang bukan contoh yang baik. Kita bisa memahami karena AS merupakan negara yang sangat mapan dalam berdemokrasi. Kemapanan tak begitu membutuhkan energi ekstra dari para pemimpinnya. Dalam kemapanan sudah ada infrastruktur politik yang bisa berjalan sesuai aturan main yang sudah ditetapkan. Dalam kemapanan semua sudah diatur, peran pemimpin hanya tinggal menjalankan administrasi yang ada.

Dibutuhkan Stamina Ganda

Sementara bagi negeri yang tengah beranjak menuju demokrasi seperti Indonesia, apalagi dengan beban sosial ekonomi yang berat akibat krisis moneter, sangat dibutuhkan tampilnya pemimpin yang tidak hanya kreatif dan inovatif, tapi juga punya stamina yang prima. Jika Presiden AS cukup bekerja 7 hingga 10 jam perhari, Presiden RI harus bekerja 14 hingga 20 jam perhari. Jika pemimpinnya bergerak lambat karena termakan usia, Indonesia akan semakin tertinggal jauh di belakang negara-negara lain. Untuk menjadi pemimpin di Indonesia dibutuhkan stamina yang berlipat ganda.

Persoalannya, di negeri ini proses regenerasi terhambat selama lerbih dari dua dasawarsa lantaran kepemimpinan Presiden Soeharto yang terlalu lama. Akibatnya ada sekian banyak pemimpin yang masih ingin tampil melampaui waktunya. Maka pada dua kali pemilu Presiden, yang tampil adalah para capres yang sudah lebih tua dari zamannya.

Apa yang terjadi jika para ”jago tua” itu pun akan tampil kembali pada pemilu 2014? Saya kira, tak ada salahnya jika dari jauh-jauh hari kita mengingatkan bahwa negeri yang penuh tantangan ini sangat membutuhkan tampilnya pemimpin-pemimpin muda yang lebih fresh dari segi pemikiran, lebih cekatan dari segi tindakan.

Kiranya sangat dibutuhkan kearifan dari para pemimpin tua negeri ini untuk lebih memberikan peluang pada para pemuda. Tentu, selain kearifan kaum tua, yang lebih penting adalah kemauan kaum muda sendiri untuk menjemput (merebut) kepemimpinan itu. Keberhasilan Anas Urbaningrum merebut kepemimpinan Partai Demokrat –partai terbesar di negeri ini—menjadi awal yang baik untuk mengucapkan selamat tinggal gerontokrasi...

Dodi Reza Alex Noerdin
Anggota DPR RI dari Partai Golkar

Seks Ariel dan Gatoloco

Ribut video porno. Itu karena pemerannya mirip Ariel dari grup musik Peterpan dan lawan mainnya mirip Luna Maya artis kondang. Si mirip Ariel itu juga ho ho hi he sama si mirip Cut Tari, istri orang. Keganasan petualangan cinta ini mengingatkan pada Gatoloco, lelanange jagad. Betulkah itu hanya mirip Ariel? Bagaimana kalau ternyata Ariel betulan?

Saya tidak mau bercerita tentang video porno itu. Soalnya saya tahu mayoritas telah nonton. Saya juga tak mengulas gaya persenggamaan, karena gaya itu telah akrab dengan kakek-nenek, bapak-ibu, sampai anak-anak yang belum masanya mengenal ‘jurus’ begituan. Teknologi informasi mendidik ‘tamu ngeres’ itu tidak santun. Dia ‘nyelonong boy’ sesuka hati. Di hand-phone tersedia layanan. Di rumah-rumah fasilitas memungkinkan. Dan di warnet apalagi. Nonstop online biar sering dioperasi.

Video porno ini sudah lama berkembang sebagai rumor. Katanya Ariel (mirip) berhubungan intim dengan Luna Maya (mirip). Gambar hidup mesum itu menjalar dari hand-phone ke hand-phone. Dan ‘penjalaran’itu akhirnya berubah menjadi tebak-tebakan. Betulkah itu Ariel? Benarkah si cantik itu Luna Maya? Soalnya amat disayangkan jika kegantengan dan kecantikannya diobral murah.

Teka-teki yang tidak saling silang itu belum sempat terpecahkan, eh tahunya si mirip Ariel ini hadir kembali. Ini kali bukan sama si mirip Luna Maya, tapi dengan si mirip Cut Tari. Celakanya yang belakangan ini bukan ‘sorangan’. Dia sudah bersuami dan punya momongan.

‘Tragedi buah apel’ terakhir ini pencuat video mesum itu. Jika mirip Luna Maya dan mirip Ariel orang masih permisif karena mereka berpacaran. Tapi ‘begituan’ dengan mirip Cut Tari sudah memasuki ‘pal merah’. Zona larangan yang tak baik bagi siapa saja. Merusak pagar ayu. Pagar makan tanaman. Celakanya sampai kini dua petualangan cinta para ‘miripus’ itu masih dalam tahap telisik.

Di jagad metafisis juga terdapat tokoh nafsi-nafsi macam ini. Malah lebih ganas dibanding si mirip Ariel. Namanya Gatoloco. Dia memproklamasikan diri sebagai lelanange jagad. Kejantanan jagad. Tampilannya tidak segagah Ariel. Tidak setampan. Tidak sengetop. Dan kalau digeneralisasi, prejengannya memang tidak pantas disebut sebagai Don Juan, penakluk perempuan.

Buruk rupa itu teridentifikasi melalui penggambaran kepalanya agak benjol memanjang, tubuh kecil dekil, mata sipit, mulut mungil, dan kulit hitam bersisik. Fisik ‘hancur-hancuran’ itu untung didukung otak brillian, harga diri sepadan, dan watak yang benar-benar jantan. Ini membuat dia tak sekadar disegani tapi sekaligus ditakuti. Orang takut berperkara dengannya.

Prestasi urakannya ‘berseks-ria’ diukir saat dia memasuki Cemara Jamus. Ini negeri ‘trembini’ yang pemimpin dan rakyatnya semua cewek. Dia menantang ratu plus seluruh senopati. Tidak melalui adu otot, namun lewat cangkriman. Tebak-tebakan persoalan hakekat hidup.

Melihat lelaki jelek rupa dan ‘kumus-kumus’ nantang adu otak untuk mengawini semua, para dara jelita itu tersinggung. Mereka panas hati dan tertantang melayani. Perempuan-perempuan itu siap pasrah diri mengabdi pada Gatoloco di tempat tidur jika kalah. Tapi kalau menang, Gatoloco harus siap ‘disate’ ramai-ramai. Dibunuh!

Dasar serat tergantung yang ‘nyerat’ (menulis), maka Gatoloco pun dimenangkan. Gadis-gadis cantik itu, dari Mlenukgembuk, Dewi Dudulmendut, Rara Bawuk, Dewi Bleweh, sampai sang ratu Retno Dewi Lupitwati takluk. Mereka diperistri. Adakah setelah itu Gatoloco menggelar pesta seks?

Semua gadis-gadis itu memang ditelanjangi. Tiap jengkal tubuh perawan itu dituding dan dimaknai. Diberi wejangan tentang jalan menjadi perempuan berbudi dan istri teladan. Juga bagaimana gambaran soal ‘iman’ dan batasan makmum. Setelah 'ceramah' panjang itu usai, Gatoloco pergi begitu saja. Dia ngeloyor jauh di luar sana untuk mencari ruang pengembaraan baru.

Tapi siapa sebenarnya Gatoloco yang bertampang urakan tapi berbudi luhur itu? Jangan kaget, dia sebutan lain dari kemaluan laki-laki. Dia santun karena 'yang punya' memang memiliki kesantunan. Dia tidak membiarkan kemaluannya liar meniru binatang. Dia menjaga kehormatan sebagai lelaki beradab di tengah puluhan perempuan pasrah yang siap di-apa-saja-kan. Sebab Gatoloco tahu nafsu seks itu simbol peradaban paling bawah.

Adakah dengan begitu mirip Ariel, mirip Luna Maya, mirip Cut Tari itu tipe manusia tidak beradab? Jawabnya: ya!

*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta

Minggu, 13 Juni 2010

Susno Duadji & Kidung Baghawatgita

Polisi 'diacak-acak'. Bukan orang lain yang melakukan, tetapi personel sendiri. Susno Duadji diindikasikan berbuat itu. Dalihnya membersihkan institusi ini dari tindak 'kejahatan'. Dampaknya, pamor polisi semakin jeblok. Benar atau salah tetap dicibir dan dipersalahkan. Benarkah Susno bak Adipati Karna yang sedang 'bertaruh nyawa' melawan Arjuna? Siapakah gerangan tokoh yang menunggu kidung Baghawatgita untuk 'membinasakan' itu?

Ulah Susno memang kontroversial. Institusinya itu 'dihajar' tanpa henti. Itu terjadi sejak dia 'dinon-aktifkan' dari jabatan Kabareskrim. Tampil dengan seragam polisi sebagai saksi 'meringankan' Antasari. Menuding tanpa tedeng aling-aling petinggi polisi makelar kasus (markus). Dan segala tindakan itu uniknya 'hanya' dilakukan melalui pesan singkat pada Kapolri.

Sebagai rakyat, terus terang kita terheran-heran melihat Susno tampil bersaksi dalam perkara Antasari. Betapa tidak. Berseragam lengkap dengan pangkat dan lencana Susno heroik membeberkan lika-liku di balik penyidikan mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu. Ini ironi. Sama dan sebanding dengan polisi 'membuikan' Antasari yang 'diralat polisi' sendiri agar tidak 'dibui.'

Performa yang tak layak dan tak etis itu menurut Susno sudah seijin Kapolri. Ijin itu dikirim melalui pesan singkat. Namun di balik kesaksian 'menjungkir-balikkan' hukum itu implisit memberi pesan pada publik, bahwa petinggi polisi sudah tidak punya 'kekuasaan' lagi dalam institusinya. Juga terkesan Kapolri tidak mampu mengendalikan anakbuahnya.

Memang setumpuk kontoversi itu banyak yang membuahkan kebenaran. Teriakan Susno berhasil menguak jalinan markus yang sudah lama terbaui. Oknum polisi dan aparat pajak kemudian menjadi tersangka. Juga hakim dan jaksa. Para penegak hukum itu terbukti telah 'memainkan' hukum bersama markus profesional demi memperkaya diri sendiri.

Jalinan kisah yang dirangkai Susno itu mirip cerita Adipati Karna atau Basukarna dalam pewayangan. Mereka yang terlibat dalam perkara ini persis epik itu. Susno 'tersakiti' saat 'dibuang' dari jabatan Kabareskrim identifikasi Adipati Karna yang tidak diakui anak oleh Dewi Kunti. Dia hidup terlunta-lunta dan terpaksa menjadi sais kuda sebelum derajatnya diangkat Kurawa.

Ekspresi hati terluka itu diluapkan dengan membuka seluruh borok yang ada dalam institusinya. Dia bak babi buta. Lupa asal dan tempat pengabdian. Lupa jalan yang pernah ditapaki. Dan alpa berhitung konsekuensi logis dari perbuatan 'merendahkan' korp dan atasannya itu.

Saat-saat 'kemarahan' itu menggelegak, seperti Adipati Karna di penghujung perang antar-keluarga Bharata yang menolak ajakan Kresna berpihak Pandawa. Dia juga sampai mati rasa, tidak tersentuh isak tangis ibundanya yang meminta agar perang melawan Arjuna, saudaranya dihindari. Ini tragedi memilukan yang sulit dipilah salah dan benarnya.

Kendati ending cerita Pandawa sebagai pemenang, tapi tumbal tidak terhindari. Nyawa Gatotkaca dikorbankan menguras kesaktian Adipati Karna. Dan Kresna sebagai titisan Wisnu terpaksa mewejangkan kidung Baghawatgita. Kidung mistis perangsang nafsu, agar Arjuna tega membunuh sang kakak yang berpihak pada lawan.

Sekarang, di tengah ambruknya 'harga diri' polisi, terjungkalnya petinggi Polri sebagai tersangka, dan Susno yang terus 'digiring' menuju lubang yang sama, adakah masih mungkin terbukanya porgatorio untuk mengubah inverno polisi dan Susno menjadi paradiso?

Rasanya pintu 'pertobatan' masih tersedia. Kapolri mengungkap itu. Dia dengan arif menyebut Susno aset Polri. Dan itu satu-satunya jalan damai, kendati tidak serta-merta berkemampuan menghapus aib yang sudah ditebar. Itukah jawaban terhadap sikap Susno yang 'jinak' akhir-akhir ini?


*) Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta

Golkar, Dana Aspirasi Rp 15 M, dan Pemilu 2014

Dua manuver Partai Golkar membuat mata publik terbelalak. Partai Pohon Beringin itu mengusulkan setiap daerah pemilihan diberi jatah dana aspirasi Rp 15 miliar. Belum lagi usulan peningkatan Parliamentary Threshold (PT) 5 persen. Mudah diduga, dua manuver ini akan mengerucut ke Pemilu 2014.

Hitungan matematiknya memang fantastis. Sekjen Partai Golkar Idrus Marham mengatakan dana Rp 15 miliar ini diberikan untuk setiap anggota dewan. Artinya, jika dikalikan dengan 560 total anggota DPR, maka akan ada Rp 8,4 triliun uang rakyat yang akan dijadikan saweran. Itu pun akan dibagi setiap tahun anggaran.

Maka wajarlah masyarakat menilai Golkar serakah dan arogan. Saya berpandangan, memang sikap ngotot Golkar untuk mengusulkan dana Rp 15 miliar per dapil ini adalah untuk memuluskan proyek kuningisasi menjelang Pemilu 2014. Politisi partai lain tentu juga kebagian dana aspirasi ini, tapi jangan lupa banyak kabupaten dan kota di berbagai wilayah Indonesia dikuasai oleh politisi Golkar. Artinya eksekusi akhir dari pencairan dana ini ada di tangan para kader Golkar di daerah.

Dana Rp 15 miliar ini akan semakin melancarkan jalan partai yang dipimpin Aburizal Bakrie ini menuju Pemilu 2014. Golkar akan dapat tambahan fulus lewat program dana aspirasi. Belum lagi jika pemanfaatan dana tersebut diselewengkan oleh masing-masing anggota dewan. Bisa dibayangkan apa yang terjadi.

Jika strategi dana aspirasi ini belum cukup. Maka Golkar punya satu senjata lagi dengan menggolkan PT 5 persen dalam Pemilu 2014. Saya menilai, ini adalah strategi jitu mengeruk kembali suaranya yang diambil Partai Demokrat (PD), Partai Hanura dan Partai Gerindra. Selain itu Golkar juga ingin membendung ancaman Ormas Nasional Demokrat (Nasdem) yang juga akan bermetamorfosa menjadi parpol. Selain itu, wacana PT 5 persen juga akan memberikan manfaat bagi Golkar untuk menghadang parpol kecil
yang selama ini mencuri suaranya tetapi hasilnya hanya meramaikan pemilu, karena
tidak mendapatkan dukungan rakyat seutuhnya.

Hanya tiga parpol yang diuntungkan dengan PT 5 persen yaitu Partai Golkar, PD dan PDIP karena perolehannya sampai di atas 10 persen dalam Pemilu 2009. Partai-partai gurem yang terbendung PT, harus merelakan kursi Senayan buat para raksasa ini. Partai-partai lain di bawah 5 persen atau sedikit di atas 5 persen, harus bekerja ekstra keras agar bisa bertahan. Mereka ini adalah Hanura, Gerindra dan PKB. Sementara PKS posisinya agak aman, tapi PPP dan PAN pas bandrol.

Lalu bagaimana hubungan antara dana Rp 15 miliar dengan usulan PT 5 persen? Jika diperhatikan teliti, maka keduanya akan menjadi kombinasi strategi yang mumpuni. Kalau dana Rp 15 miliar sampai gol, ini adalah bahan bakar Golkar untuk menggerakkan mesin politiknya berkonsolidasi menyambut Pemilu 2014. Karena inilah kader Golkar ngotot agar dana ini tetap dikaji dalam pembahasan RAPBN 2011. Sampai-sampai FPG DPR secara resmi mengelar jumpa pers untuk tetap berusaha mempengaruhi opini publik bahwa usulan dana itu bertujuan untuk meningkatkan pembangunan daerah dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Sementara usulan PT 5 persen jika disetujui akan menjadikan partai yang lolos ke parlemen dalam Pemilu 2014 nanti tidak akan lebih dari 6 partai. Sebab, berdasar hasil Pemilu 2009 lalu hanya 6 partai yang melebihi perolehan suara 5 persen dari sekitar 44 parpol yang ikut berkompetisi. 6 parpol itu adalah PD, Golkar, PDIP, PKS, PAN dan PPP. Dari dua strategi ini, Golkar akan memiliki mesin politik dengan dana kencang, serta tameng untuk membendung partai saingan dan partai baru.

Untungnya, usulan Golkar ini masih menghadapi tantangan yang keras dari masyarakat dan parpol. Untuk usulan penganggaran dana Rp 15 miliar perdapil, pemerintah melalui Menkeu Agus Marto secara langsung mengungkapkan penolakannya di depan DPR. Belum lagi para aktivis anti korupsi dan para pengamat kritis yang juga ikut menentang usulan Golkar itu. Bahkan tak jarang Golkar disebut ingin merampok keuangan negara jika tetap memaksakan usul dana Rp 15 miliar perdapil.

Demikian halnya dengan penolakan soal wacana peningkatan PT menjadi 5 persen dalam Pemilu 2014. Hampir semua aktivis, parpol kecil dan termasuk PDIP menolak gagasan Golkar itu. Alasannya, usulan Golkar hanya akan membatasi ruang ekspresi berdemokrasi yang telah menjadi hak konstitusi bagi setiap warga negara Indonesia. Jika Golkar tidak peka, tetap arogan, dan merasa besar terus, strategi ini bisa menjadi bumerang. Golkar akan memanen kekecewaan dan kehilangan kepercayaan masyarakat.


*) Muhammad Nur Hayid adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili pendapat perusahaan tempat penulis bekerja.

Lowongan Kepala Afdeling

Kepala Afdeling PT Union Sampoerna Triputra Persada                          Requirements Berusia antara 25 - 35 tahun Pendidik...