Selasa, 31 Maret 2009

Keluar dari Perangkap Pangan?

Oleh : Gatot Irianto

Peningkatan kebutuhan pangan terjadi akibat pertambahan penduduk yang relatif tinggi (1,38 persen/tahun) dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semua pihak perlu mewaspadai fenomena itu. Paling tidak ada tiga komoditas pangan nonberas yang perlu dicermati terkait peningkatan permintaan sehingga bisa mendorong ketergantungan berlebihan atas bahan pangan impor. Gandum, tetua ayam ras (grand parent stock) baik pedaging maupun petelur serta ternak sapi, merupakan tiga komoditas utama yang kini menjadi perhatian public dan pemerintah karena ledakan permintaannya.

Peningkatan permintaan gandum dan daging ayam broiler yang besar akibat promosi dan layanan antar yang amat militan dan di dukung industri hulu dan hilir perusahaan multinasional yang tangguh. Kondisi ini diperburuk terbatasnya edukasi media tentang hidup sehat atas pangan berbasis terigu dan daging ayam ras pada kelompok usia produktif dan anak-anak. Adapun lonjakan peningkatan impor sapi hingga kini terjadi akibat kebijakan pemerintah untuk mengimplementasikan pelarangan pemotongan betina produktif agar sapi yang dipotong memenuhi potensi bobot potong ideal. Pilihan ini harus diambil karena dalam jangka panjang akan menyelamatkan populasi ternak sapi dan peningkatan produksi daging sapi untuk keluar dari perangkap impor sapi, daging dan jeroan sapi.

Terigu dan Ayam
Menyikapi situasi permintaan terigu yang terus melonjak, pemerintah menggenjot diversivikasi dengan produk tepung non terigu berbasis komoditas lokal utamanya umbi-umbian dengan fortifikasi agar kompetitif terhadap gandum. Hal ini harus dilakukan karena agro-ekologi untuk tanaman gandum tidak banya tersedia di Indonesia. Dengan harga jual pangan berbahan non terigu lebih murah, edukasi dan promosi hidup sehat yang lebih gencar, diharapkan dalam jangka menengah, tepung terigu yang kini mendominasi pangan nonberas. Sementara untuk mengatasi ketergantungan atas ayam ras, pemerintah mendorong swasta mengimpor great grand parent stock (GGP) atau pure line agar jaminan produksi ayam usia sehari (day old chick/DOC) dapat dipastikan dalam kurun waktu lima tahun. Secara simultan penelitian dan pengembangan ayam lokal terus diintensifkan.

Semua pihak harus mewaspadai kampanye hitam atas ayam buras yang dituduh sebagai penyebar virus avian influenza seperti banyak dilansir media selama ini. Padahal, kita tahu, Indonesia merupakan salah satu pusat domestika ayam di dunia. Ayam buras/kampung merupakan jaring pengaman sosial yang amat strategis guna mengeluarkan Indonesia dari perangkap pangan dan kemiskinan. Itu sebabnya ada pihak yang ingin menghancurkan ayam buras Indonesia
dengan berbagai modus. Padahal, 60 persen populasi ayam buras tahan terhadap avian influenza. Maka, amat tidak adil jika dimusnahkan dengan peraturan daerah (perda).

Produk Lokal
Untuk melepaskan Indonesia dari perangkap pangan, maka perlu dilakukan (i) bagaimana semua pihak menggunakan produk pangan lokal dengan semua konsekuensinya; (ii) bagaimana menurunkan ketergantungan/ketagihan atas bahan pangan utama gandum agar cepat dan pasti, ketergantungan pangan dapat direduksi secara signifikan.

Kita perlu belajar dari negara kaya yang teknologinya maju, seperti Jepang dan Korea Selatan. Mereka tetap bangga menggunakan produk telepon seluler dan mobil sendiri tanpa terpengaruh produk lain meski lebih canggih. Harga diri bangsa menjadi taruhan terakhir dalam melepaskan diri dari perangkap pangan. India juga merupakan teladan bagaimana keluar dari perangkap pangan dan menjadi negara industri. Kebijakan pemerintah dalam importasi pangan, penetapan tarif, dan keberpihakan terhadap petani sudah menunjukkan hasilnya meski harus diakui masih memerlukan tenaga, waktu, dana dan pengawasan kontinu.

Kini, pertarungan pasar atas bahan pangan impor sudah tidak terbatas sehingga yang kuat kian kuat dan yang lemah kian tergilas. Maka badan penelitian dan pengembangan pertanian memberi prioritas utama dalam pengembangan benih, bibit, pupuk, dan alat pada tahun anggaran 2008 agar Indonesia secara bertahap keluar dari perangkap pangan. Lompatan produksi pangan nonterigu, ayam buras, dan sapi pasti dapat dilakukan dalam 3-5 tahun ke depan jika semua pihak secara konsisten melindungi pertanian dan petani kita.

Gatot Irianto
Penulis adalah Kepala Badan Litbang Pertanian
Dimuat dalam Koran Kompas 4 September 2008

Jumat, 27 Maret 2009

Ekonomi Biaya Tinggi

Oleh: Ahmad Erani Yustika

Reformasi ekonomi di Indonesia kurang lebih telah dijalankan selama 10 tahun dengan hasil yang ambigu. Proses reformasi ekonomi itu dilakukan pada hampir semua sektor ekonomi, tetapi tidak banyak yang mengalami kemajuan.


Di sektor moneter, independensi bank sentral ternyata tidak lantas membuat kinerjanya menjadi lebih bagus meskipun aspek pengawasan mengalami kemajuan yang berarti. Di sektor riil telah terdapat banyak upaya untuk mereformasi ekonomi, baik pada aspek produksi, distribusi maupun konsumsi.

Tata niaga produksi untuk sebagian komoditas sudah dipangkas, tapi sebagian besar barang/jasa lain masih diselimuti praktik mafia distribusi yang tidak gampang diurai,misalnya pada komoditas pertanian.

Pada proses produksi, proses reformasi ekonomi boleh dikatakan jalan di tempat sehingga menjadi pemicu lambatnya pergerakan investasi di Indonesia. Inilah yang membuat secara keseluruhan Indonesia masih dijangkiti penyakit ”ekonomi biaya tinggi”.

Investasi dan Iklim Usaha
Investasi masih menjadi persoalan serius di Indonesia meskipun sekian banyak fasilitas telah diberikan kepada para investor seperti pengurangan pajak dan perpanjangan penggunaan lahan. Titik krusial yang mengakibatkan investasi tidak bergerak adalah menyangkut iklim investasi yang buruk.

Studi yang dilakukan International Finance Corporation (IFC), misalnya,menunjukkan prestasi yang kurang menggembirakan soal iklim investasi ini. Sekurangnya terdapat 10 variabel yang dinilai IFC untuk mengukur iklim investasi, yakni (i) memulai bisnis, (ii) perizinan, (iii) ketenagakerjaan, (iv) kepemilikan, (v) pengajuan kredit, (vi) perlindungan investor; (vii) pembayaran pajak, (viii) perdagangan lintas negara, (ix) penegakan kontrak, dan (x) penutupan usaha.

Berdasarkan penilaian dengan menggunakan parameter IFC tersebut, belum terlihat kemajuan sehingga peringkat Indonesia tidak mengalami perbaikan,bahkan dalam beberapa parameter justru mengalami kemunduran. Sekadar ilustrasi, indikator memulai usaha pada 2008 berada di peringkat 168,menurun ketimbang 2007 (peringkat 163).

Pola itu juga terjadi pada indikator pengurusan kredit dan perlindungan terhadap investor, bahkan peringkat tahun 2008 justru lebih rendah daripada 2007.Sementara untuk indikator perizinan, ketenagakerjaan, kepemilikan, pembayaran pajak,perdagangan lintas negara, penegakan kontrak, dan penutupan usaha sedikit ada perbaikan.

Perbaikan itu boleh dikatakan kurang memiliki makna karena apabila dibandingkan negaranegara tetangga iklim usaha di Indonesia masih jauh tertinggal.Misalnya, jumlah prosedur memulai usaha posisi Indonesia berada di belakang Singapura, Hong Kong, Thailand, Malaysia, dan Vietnam.

Padahal, dalam konteks kompetisi penanaman modal asing, negara-negara itu merupakan pesaing Indonesia. Posisi yang sama juga terjadi pada aspek lain seperti biaya memulai bisnis, waktu memulai usaha,dan kerumitan pembayaran pajak. Salah satu sumber terpenting dari iklim usaha ini adalah soal pungutan liar (pungli).

Memang sebagian data sedikit memberikan harapan, sebab pembayaran ilegal (informal payment) terhadap pegawai pemerintah telah mengalami penurunan. Pada pertengahan 2005, persentase pembayaran ilegal kepada pegawai pemerintah mencapai 1,7% dari total ongkos produksi.Persentase itu telah menurun menjadi 1,3% pada pertengahan 2007 (LPEM,2008).

Namun, jika data itu disandingkan dengan temuan riset lain, harapan cerah itu mungkin harus ditahan terlebih dulu. Sekadar contoh, sebuah truk harus melewati 14 pos pungutan apabila melakukan pengiriman barang dari Makassar ke Kendari.

Dari pos sebanyak itu,64% biaya yang dikeluarkan merupakan pungutan tidak resmi dan hanya 36% yang berupa pungutan resmi (LPEM, 2008). Jadi, upaya pemerintah melakukan perbaikan iklim usaha cukup banyak pada level kebijakan, tapi dalam implementasinya banyak hal yang masih harus disentuh.

Ekonomi Biaya Tinggi

Deskripsi di muka pada akhirnya menyimpulkan realitas yang tidak dapat dimungkiri bahwa ekonomi biaya tinggi masih menjadi karakter bisnis di Indonesia. Beberapa hal mesti dilakukan untuk mendobrak kebuntuan ini.

Pertama, pemerintah pusat bertanggung jawab untuk menyederhanakan regulasi yang menjadi ruang lingkupnya seperti perpajakan, jaminan kepada investor, ketenagakerjaan, dan penutupan usaha.Pada level ini, kinerja yang sudah dicapai oleh negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia (tidak perlu Singapura dimasukkan) bisa menjadi benchmark.

Biaya-biaya siluman yang dikeluarkan untuk variabel- variabel tersebut bisa ditekan dengan pemanfaatan teknologi sehingga setiap proses pembayaran tidak harus ada tatap muka antara pegawai pemerintah dan (calon) investor.

Sementara yang menyangkut jumlah prosedur, pengurangan prosedur merupakan hal yang tidak dapat ditawar tanpa mengorbankan substansi yang lebih luas. Kedua,bagi pemerintah daerah diperlukan langkah serius untuk menekan munculnya perda-perda yang antiinvestasi.

Pengalaman Depkeu dan Depdagri yang mencabut ribuan perda bermasalah membuktikan bahwa banyak regulasi pemerintah daerah yang tidak sesuai dengan semangat perbaikan iklim usaha. Oleh karena itu,pemerintah pusat sebaiknya secara tegas memberikan penalti terhadap daerah-daerah yang tidak mendukung ke arah perbaikan iklim usaha/investasi.

Adapun bagi daerah yang secara nyata memberikan kontribusi terhadap perbaikan iklim investasi (dan secara langsung mengurangi ekonomi biaya tinggi) perlu diberi insentif, baik dengan skema fiskal maupun nonfiskal.

Model inilah yang harus ditempuh pemerintah, baik pusat maupun daerah, sehingga perbaikan iklim investasi benar-benar nyata di hari depan. Tanpa langkah sistematis semacam ini, pengurangan ekonomi biaya tinggi hanya menjadi utopia.(*)
URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/210321/



Ahmad Erani Yustika
Direktur Eksekutif Indef,
Ketua Program Stud

Penanganan Krisis Tepat Guna

Oleh: Erwin Aksa

Banyak kalangan berusaha memformulasikan solusi yang komprehensif untuk mengatasi dampak krisis keuangan global–– yang sekarang sudah menjadi resesi ekonomi.


Seolah-olah krisis ini sudah benar-benar mendunia dan menyentuh setiap aspek kehidupan sehingga dibutuhkan solusi perekonomian, lengkap dengan konsideran sosial dan politik yang akhirnya terlalu lama untuk diputuskan, apalagi diimplementasikan.

Padahal,walaupun besarannya sebanding atau lebih besar dari Depresi Ekonomi tahun 1930-an atau krisis keuangan Asia tahun 1998,penyebab krisis saat ini sebenarnya cukup terisolasi di Amerika Serikat (AS) dan beberapa negara Eropa Barat.Walaupun dampaknya mulai mendunia,krisis saat ini tidak serta-merta menciptakan episentrum (pusaran) krisis baru di setiap negara yang terkena dampaknya.

Berbeda dengan tahun 1998 atau tahun 1930-an. Pada 1998, beberapa negara,terutama Indonesia,Korea Selatan (Korsel), Rusia,dan Meksiko, tidak sekadar menerima ”kiriman”krisis mata uang Thailand.Krisis keuangan Thailand yang merambat ke Indonesia justru menciptakan pusaran krisis baru, yaitu krisis politik,ekonomi, dan akhirnya multidimensi.

Demikian juga di Rusia, Korsel, dan Meksiko. Struktur sosial dan politik di setiap negara tersebut rapuh karena dominasi segelintir kelompok usaha konglomerat yang mendapatkan fasilitas istimewa dari pemerintah masing-masing sehingga mengakumulasi kecemburuan dan kedengkian masyarakat.

Akibatnya,ketika krisis keuangan melanda negaranegara tersebut dan menjatuhkan kekuatan yang berkuasa, baik secara ekonomi maupun politik, masyarakatnya memanfaatkan peluang tersebut untuk menghilangkan penyalahgunaan kekuasaan dan kesenjangan ekonomi yang berlebihan yang telah berlangsung sekian lama.

*** Pada 1998, kekayaan dari banyak negara yang terkena krisis tergerus sampai ke titik nadir, sedangkan utang melambung setinggi langit.Pemasukan utang negara saat itu didapat dari sumber eksternal, yaitu utang luar negeri, ekspor migas, dan ekspor barang jadi.

Sayangnya kemajuan Indonesia sebagai negara eksportir terkemuka tidak ditopang oleh peningkatan daya beli masyarakat domestik. Kekuatan kelas menengah dengan pendapatan yang kuat untuk konsumsi, untuk menabung, bahkan untuk berinvestasi (seperti saat ini) sangat terbatas, sedangkan saat ini hanya keuangan perusahaan yang terganggu sehingga penyelesaiannya bisa lebih sederhana kalau dilakukan dengan cepat. Sekarang semuanya sudah berubah.

Utang luar negeri Indonesia relatif kecil dibandingkan negara lain. Bahkan Indonesia dianugerahi berbagai penghargaan karena kemampuan mengelola keuangan yang sangat baik.Ekonomi saat ini dimotori oleh sektor swasta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Walaupun proporsi ekspor terhadap PDB di negara-negara berkembang lebih tinggi dibandingkan tahun 1998, hal ini juga diikuti oleh pembangunan ekonomi domestik yang dimotori sektor swasta, baik skala besar maupun menengah dan kecil. Belum lagi semakin terciptanya ”kekuatan modal” yang ditandai oleh peningkatan pendapatan masyarakat, tabungan masyarakat, dan investasi masyarakat.

Ekspor Indonesia pasti akan menurun karena resesi dunia,tapi di saat yang sama semakin banyak pula kebutuhan dalam negeri yang harusnya bisa dipenuhi perusahaan nasional yang selama ini menjual barang dan jasanya ke luar negeri.

Sayangnya kesenjangan antara kebutuhan masyarakat yang didukung dengan daya beli yang juga semakin meningkat itu dimanfaatkan dengan baik oleh impor barang-barang konsumen, bahkan tidak sedikit yang merupakan impor ilegal dari negara-negara seperti China dan Vietnam.

*** Pendapat (income) masyarakat yang mendasari daya jangan sampai malah tergerus oleh inflasi atau karena pengangguran.Kedua hal itu––inflasi dan pengangguran––dapat meningkat kalau ketersediaan barang menurun karena produksi terganggu, karena distribusi terhambat, atau karena kebangkrutan perusahaan yang disebabkan terhentinya pembiayaan dan perbankan.

Secara sederhana,pemerintah perlu untuk mengubah pola pikir dari yang sebelumnya melihat pertumbuhan ekonomi sebagai fungsi produksi (diukur dengan nilai barang dan jasa yang terjual) menjadi pertumbuhan ekonomi sebagai fungsi pendapatan (income). Lalu korporasi maupun individu (diukur dari keseimbangan antara provitabilitas perusahaan dengan peningkatan gaji karyawan).

Dengan melihat ekonomi sebagai fungsi income, pertanyaan utama bagi pemerintah dalam menangani dampak resesi ekonomi global ini haruslah, ”Bagaimana menyelamatkan kemampuan ekonomi Indonesia memberikan income yang cukup bagi korporasi dan bagi masyarakat Indonesia?”

Kelihatannya seperti pertanyaan yang klise, tapi sebenarnya tidak.Perekonomian AS dan negara-negara maju tidak dapat memenuhi tujuan tersebut karena kondisi keuangan negara dalam posisi defisit luar biasa, demikian juga kondisi keuangan masyarakatnya. Tidak demikian dengan Indonesia dan negara-negara Asia lain.

Walaupun saat ini masih defisit,keuangan negara masih cukup sehat dibandingkan dengan kemampuan berproduksi maupun dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional.Selain itu,kondisi keuangan masyarakat Indonesia tidak dalam kondisi defisit.

Walaupun pertumbuhan industri kartu kredit cukup tinggi, itu masih sangat kecil dibandingkan jumlah populasi. Tingkat konsumsi rata-rata rumah tangga juga belum melebihi tingkat pendapatan rumah tangga, kecuali bagi yang menganggur.

*** Inilah kesempatan emas bagi pemerintah. Pemerintah perlu memikirkan kebijakan terobosan yang mampu mengurangi pengangguran, menjamin ketersediaan dana bagi korporasi dan individu untuk tetap tumbuh tanpa menciptakan beban utang yang terlalu besar dan terlalu berisiko bagi keuangan negara.

Jawabannya adalah dengan memanfaatkan dan mengembangkan dana publik yang saat ini tersedia cukup besar untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur besar yang selama ini tertunda. Mekanismenya dengan mengubah dana tabungan dan investasi masyarakat menjadi dana pembangunan.

Lalu bukankah hal ini akan mengulang pengalaman buruk AS di mana setiap rumah tangga memiliki investasi yang sekarang hangus dibakarolehresesiekonomidankejatuhan pasar modal? Tidak juga asalkan kita bisa terus-menerus mengukur kesehatan perekonomian berdasarkan fungsi income.

Ekonomi AS hancur lebur karena pasar keuangan tumbuh lebih besar dan lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan riil masyarakat sehingga konsumsi masyarakat AS tidak dibiayai oleh tabungan, melainkan oleh utang rumah tangga. Mudah-mudahkan pemerintah tidak terus-menerus khawatir menjaga nilai rupiah di pasar internasional asalkan permintaan rupiah di dalam negeri untuk pembangunan dan konsumsi tetap digenjot.

Selain itu, mungkin sebaiknya suku bunga terus diturunkan walaupun ada risiko penurunan nilai rupiah asalkan penyerapan kredit perbankan oleh industri dan masyarakat bisa ditingkatkan untuk melakukan kegiatan produksi dan konsumsi.

Boleh saja menyelamatkan bank yang kurang sehat karena terkena dampak krisis asalkan bank-bank yang sehat justru dimanfaatkan kekuatannya dan dikawal aktivitasnya agar tetap bisa menghidupkan perekonomian. Dalam hal ini industri dana pensiun, asuransi, dan manajemen investasi sebenarnya bisa dimanfaatkan.

Bukan semata-mata untuk mengundang modal asing, melainkan untuk menyalurkan modal dan dana masyarakat ke sektor-sektor yang paling dibutuhkan dan prospeknya paling menjanjikan. Dana asing akan mengalir dengan sendirinya bila keadaan sudah kembali normal.

Mungkin konsep inilah dulu yang dimaksud oleh Bung Hatta sebagai ekonomi kerakyatan, yaitu pembangunan ekonomi yang ditopang dan dimotori oleh dana masyarakat.(*)
URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/210287/

Senin, 23 Maret 2009

Internet ke Interkoloni

HARUN YAHYA

Pemrogram komputer menggunakan lebah madu sebagai rujukan

Naiknya tingkat kesibukan berbelanja melalui Internet menimbulkan sejumlah permasalahan besar. Perilaku pelanggan ketika berbelanja bisa jadi sama sekali lain dari perkiraan umumnya, dan mungkin saja berbeda di antara sesama pelanggan. Hal ini menyebabkan lalu lintas internet menjadi tidak teratur dan akhirnya berujung pada penumpukan tiba-tiba pada server Internet yang menangani belanja on-line. (Server: sebuah komputer dalam sebuah jaringan yang menyimpan program-program aplikasi dan file-file data yang dapat dikunjungi oleh komputer-komputer lainnya di dalam jaringan tersebut.) Para pakar dari Universitas Oxford dan the Georgia Institute of Technology [Institut Teknologi Georgia] melakukan kerjasama dalam rangka mengembangkan sejumlah teknologi yang dapat mengatasi penumpukan semacam itu. Para peneliti ini mengambil model atau contoh-acuan berupa suatu masyarakat yang lalu lintasnya telah berhasil diatur dengan sangat baik. Contoh-acuan ini adalah perilaku koloni atau masyarakat lebah madu yang tengah ditiru dalam sejumlah teknologi yang ditujukan untuk meringankan beban pada server-server pada saat terjadi kepadatan lalu lintas yang luar biasa.

Lonjakan jumlah pelanggan belanja atau perdagangan saham secara tiba-tiba, naik turunnya kegiatan lelang melalui internet memunculkan kesulitan besar pada perusahaan-perusahaan pengelola server. Untuk meningkatkan keuntungan mereka sebesar-besarnya, perusahaan-perusahaan ini perlu memeriksa komputer-komputer mereka setiap saat untuk menjaga agar komputer tersebut tetap mampu menyesuaikan diri terhadap tingkat kebutuhan yang berubah-ubah melalui campur tangan secara cepat. Namun pada kenyataannya, hanya satu aplikasi web saja yang dapat dimuat ke dalam komputer pada satu waktu, dan hal ini merupakan sebuah kendala. Perpindahan antar-aplikasi menyebabkan penghentian sementara selama 5-7 menit, waktu ini diperlukan untuk konfigurasi ulang pada komputer, dan ini berarti kerugian.

Permasalahan serupa dijumpai dalam tugas-tugas yang dijalankan oleh lebah madu. Sumber-sumber bunga memiliki keragaman dalam hal mutu. Oleh karena itu, seseorang mungkin berpikiran bahwa keputusan tentang berapa banyak lebah yang harus dikirim ke setiap tempat tersebut dan berapa lama mereka sebaiknya berada di sana merupakan sebuah permasalahan dalam sebuah koloni yang ingin mencapai laju pengumpulan madu bunga (nektar) setinggi-tingginya. Akan tetapi, berkat sistem kerja mereka yang sangat baik, lebah mampu memecahkan permasalahan ini tanpa mengalami kesulitan.

Sekitar seperlima dari lebah-lebah di dalam sebuah sarang bertugas sebagai pengumpul-nektar. Tugas mereka adalah berkelana di antara bunga-bunga dan mengumpulkan nektar sebanyak mungkin. Ketika kembali ke sarang, mereka menyerahkan muatan nektar mereka kepada lebah-lebah penyimpan-makanan yang menjaga sarang dan menyimpan bahan makanan. Lebah-lebah ini kemudian menyimpan nektar di dalam petak-petak madu. Seekor lebah pengumpul-nektar juga dibantu oleh rekan-rekannya dalam menentukan seberapa bagus mutu sumber bunganya. Lebah pengumpul-nektar tersebut menunggu dan mengamati seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bertemu dengan seekor lebah penyimpan-makanan yang siap menerima muatan. Jika waktu tunggu ini berlangsung lama, maka sang lebah pengumpul-nektar memahami hal ini sebagai isyarat bahwa sumber bunganya bukan dari mutu yang terbaik, dan bahwa lebah-lebah yang lain kebanyakan telah melakukan pencarian yang berhasil. Sebaliknya, jika ia disambut oleh sejumlah besar lebah-lebah penyimpan-makanan untuk mengambil muatannya, maka semakin besarlah kemungkinan bahwa muatan nektar tersebut bermutu baik.

Lebah yang mendapatkan informasi ini memutuskan apakah sumber bunganya senilai dengan kerja keras yang akan dilakukan berikutnya. Jika ya, maka ia melakukan tarian-getarnya yang terkenal agar dipahami maksudnya oleh lebah-lebah lain. Lama tarian ini memperlihatkan seberapa besar keuntungan yang mungkin dapat diperoleh dari sumber bunga ini. [penjelasan lebih lanjut tentang tarian lebah, silakan baca: http://www.harunyahya.com/indo/buku/menyingkap003.htm]

Sunil Nakrani dari Universitas Oxford dan Craig Tovey dari the Georgia Institute of Technology menerapkan cara pemecahan masalah oleh lebah madu tersebut pada permasalahan ada pada Internet host. Setiap server mengambil peran sebagai lebah pengumpul-nektar, dan setiap permintaan pelanggan bertindak sebagai sumber bunga. Dengan cara ini, doktor Nakrani dan Tovey mengembangkan sebuah algoritma "lebah madu" untuk server Internet "sarang." (Algoritma: Serangkaian tahapan-tahapan logis untuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat diterjemahkan ke dalam sebuah program komputer.)

Sebuah host menjalankan tugas, sebagaimana yang dilakukan lebah dengan tarian-getarnya, dengan membuat sebuah iklan dan mengirimkannya ke sejumlah server lainnya di dalam sarang. Lama masa penayangan iklan ini mencerminkan manfaat dan tingkat keuntungan yang dapat diraup melalui para pelanggan server-server tersebut. Server lain membaca iklan ini dan berperilaku seperti lebah-lebah pekerja yang mengikuti petunjuk yang yang disampaikan melalui tarian-getar tersebut. Setelah mempertimbangkan dan mengkaji iklan ini beserta pengalaman mereka sendiri, mereka memutuskan perlu tidaknya untuk beralih dari para pelanggan yang sedang mereka layani ke para pelanggan yang sedang dilayani oleh server yang mengirim iklan tersebut.

Doktor Nakrani dan Tovey melakukan uji banding antara algoritma lebah madu yang mereka kembangkan dengan apa yang disebut sebagai algoritma "rakus" yang saat ini dipakai oleh kebanyakan penyedia Internet host. Algoritma rakus terlihat ketinggalan zaman. Algoritma rakus membagi waktu menjadi sejumlah penggalan waktu yang tetap dan menempatkan server-server untuk melayani para pelanggan untuk satu penggalan waktu berdasarkan pengaturan yang dianggap paling menguntungkan pada penggalan waktu sebelumnya. Para peneliti mengungkap bahwa di saat-saat ketika lalu lintas sangat berubah-ubah, algoritma lebah madu memperlihatkan kinerja 20% lebih baik daripada algoritma rakus. Sebentar lagi mungkin server-server yang bekerja menggunakan algoritma lebah madu akan semakin banyak di masa mendatang, di mana Internet akan lebih tepat disebut sebagai "Interkoloni."

Dengan pemisalan yang sangat tepat, penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan ini menunjukkan betapa berbagai pemecahan masalah yang masuk akal terdapat di alam. Permasalahan yang dihadapi server-server Internet sangatlah mirip dengan permasalahan yang dipecahkan oleh koloni lebah madu. Sungguh, keberhasilan yang dicapai penelitian tersebut, yang dilakukan dengan menerapkan contoh-rujukan koloni lebah madu, menjadi isyarat akan hal ini. Akan tetapi, dari manakah asal usul rumusan pemecahan masalah yang diberikan lebah madu kepada para pemrogram komputer tersebut? Meskipun para pemrogram komputer dapat mengambil perilaku lebah madu sebagai contoh-rujukan mereka, lebah itu sendiri tidak dapat melakukan hal seperti itu. Ini dikarenakan meskipun tiruan algoritma lebah yang dibuat oleh pemrogram komputer merupakan hasil dari proses berpikir cerdas yang dilakukan secara sadar, lebah madu tidak memiliki kemampuan berpikir semacam itu. Pemecahan atas permasalahan tersebut membutuhkan tindakan sadar, misalnya pertama-tama pemahaman tentang adanya permasalahan tersebut, pengkajian terhadap sejumlah penyebab timbulnya permasalahan itu, pengenalan atas pengaruh sejumlah penyebab itu terhadap permasalahan tersebut secara umum dan pengaruhnya terhadap satu sama lain, dan akhirnya pengambilan keputusan di antara beragam pilihan yang ada.

Sudah pasti pemecahan masalah semacam itu tidak mungkin terjadi di dalam koloni lebah beranggotakan 20 sampai 50 ribu ekor. Hanya ada satu penjelasan masuk akal atas kenyataan ini, di mana sedemikian banyak makhluk hidup menghemat energi dengan menerapkan cara pengumpulan nektar yang paling menguntungkan; meskipun orang biasanya mengira akan melihat suatu kekacauan dan kebingungan di dalamnya. Pemahaman atas permasalahan di dalam koloni lebah dan jalan keluar pemecahannya merupakan hasil karya Pencipta Maha Mengetahui. Tidak ada keraguan, Allahlah, Pencipta langit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya, Yang telah menciptakan koloni lebah. Strategi yang diterapkan di dalam koloni lebah madu merupakan ilham yang berasal dari Allah. Allah menyatakan hal ini di ayat berikut:

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An Nahl, 16:68-69)

Sabtu, 14 Maret 2009

Lowongan Kebun

TPI BERKAT SUKSES, PT

Sebuah perusahaan group dari PT. TPI Berkat Sukses yang bergerak dibidang PERKEBUNAN KELAPA SAWIT, mengundang anda professional muda berkualitas untuk bergabung bersama kami dan mengisi posisi yang tersedia diperusahaan kami sebagai :

Kepala Tata Usaha Kebun ( KTU)

Kepala Tata Usaha Kebun ( KTU) ( BENGKULU, JAMBI & KALIMANTAN ) Post Date: 14 Mar 09


K u a l i f i k a s i

Pria
1. Usia minimal 30 tahun
2. Pendidikan minimal S1 pertanian / agronomi / setara
3. Memiliki pengalaman dibidang perkebunan minimal 3 tahun
4. Dapat mengelola kebun sawit minimal 1.000 Ha
5. Memahami aspek teknis pembukaan lahan, pembibitan, perawatan tanaman dan pekerjaan kebun lainnya.
6. Dapat membuat laporan statistik ke Dinas Perkebunan / Pemerintahan
7. Dapat mengoperasikan komputer dan alat ukur ( theodolit,GPS, dll)
8. Masing-masing memiliki jiwa kepemimpinan, jujur, disiplin serta bertanggungjawab terhadap pekerjaan.
9. Bersedia ditempatkan di Bengkulu, Jambi dan Kalimantan.
10 Bagi pelamar yang memenuhi persyaratan silakan kirim lamaran dan CV anda yang dilengkapi dengan foto 4 X 6 terbaru.

E-mail ke :
ika_hasfarm08@yahoo.com

atau kirim ke :

PT.TPI BERKAT SUKSES
PLAZA HAYAM WURUK LT.7D
JL. HAYAM WURUK NO.108 JAKARTA BARAT 11160
ATT. DEPARTEMENT HRD.

Kamis, 12 Maret 2009

Racun Orientalis, Sangat Berbahaya Meski Sedikit

Oleh: Dr Syamsuddin Arief MA

Diabolis adalah iblis dalam bahasa Yunani kuno. Menurut A Jeffery dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur'an, istilah diabolisme berarti pemikiran, watak dan perilaku ala iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam al Qur'an dinyatakan, iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27). Inilah penggalan alenia pertama artikel berjudul “Diabolisme Intelektual” karya Dr Syamsuddin Arief MA.

Sebagaimana diketahui, iblis dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Allah SWT untuk bersujud pada Adam. Apakah iblis atheis? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan Allah. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya 100%. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut kafir? Di sinilah persoalannya.

Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah saw, seperti orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.

Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan. Harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. "Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission," tegas Profesor Naquib al-Attas.

Kesalahan iblis bukan karena ia tak tahu atau tak berilmu. Kesalahannya karena ia membangkang, aba wa istakbara (QS 2:34, 15:31, 20:116); menganggap dirinya hebat, istakbara (QS 2:34, 38:73, 38:75); dan melawan perintah Tuhan, fasaqa an amri rabbihi (QS 18:50). Dalam hal ini, Iblis tak sendirian. Sudah banyak orang yang berhasil direkrut sebagai staf dan kroninya, berpikiran dan berprilaku seperti yang dicontohkannya.

Iblis adalah ”prototype intelektual keblinger”. Sebagaimana dikisahkan dalam al Qur'an, sejurus setelah ia divonis, iblis mohon agar ajalnya ditangguhkan. Dikabulkan dan dibebaskan untuk sementara waktu, ia pun bersumpah untuk menyeret orang lain ke jalannya, dengan segala cara.

Pertanyaannya, apakah kaum orientalis yang melakukan distorsi ajaran Islam merupakan bagian dari Diabolisme Intelektual? Untuk menjawab ini, sekaligus mengurai sepak terjang kaum orientalis, Wartawan Sabili Andy Sulistiyanto, Ganna Pryadharizal, Chairul Akhmad dan Fotografer Arief Kamaluddin, mewawancarai Dr Syamsuddin Arief MA. Pakar orientalis yang sedang menempuh program doktor keduanya di Universitas Frankfurt, Jerman. Berikut petikannya ketika pria asli Betawi ini berkunjung ke Sabili:

Apakah semua keruwetan yang terjadi di dunia Islam disebabkan oleh orientalis?

Memang orientalis punya andil dalam merusak dan menimbulkan keruwetan dalam dunia Islam. Namun berapa prosentasenya kita tidak tahu secara pasti. Dalam surat at Taubah dijelaskan bahwa orang-orang yang beriman dan orang-orang munafik antara sebagian dengan sebagian yang lain saling tolong-menolong. Jadi, para orientalis juga saling bahu membahu dalam merusak dunia Islam.

Bagaimanakah perkembangan dan dinamika orientalisme saat ini?

Saya melihat orientalisme bukan sebuah gerakan. Dalam konferensi-konferensi dan pertemuan yang biasa mereka lakukan. Mereka memang memiliki jaringan melalui beberapa organisasi dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) namun sifatnya informal karena lintas negara. Yang menyatukan mereka adalah human interest yakni mereka mempunyai minat dan ketertarikan yang sama dalam dunia internasional.

Orientalis Barat kebanyakan adalah keturunan Yahudi. Orang Yahudi menganggap dalam stratifikasi masyarakatnya, yang paling tinggi kedudukannya ialah yang paling berilmu. Seperti ilmuwan, saintis apalagi yang plus ahli agama. Hampir kebanyakan kaum Yahudi mempunyai cita-cita untuk menjadi ilmuwan terutama menjadi ilmuwan yang ahli agama yang biasa disebut ulama Bani Israil.

Bagaimanakah sikap orientalis terhadap al-Qur’an?

Orientalis sejak dahulu hingga sekarang mengkaji al-Qur’an untuk mencari kelemahan, mereka tidak percaya bahwa al-Qur’an adalah wahyu dan menganggapnya buatan Muhammad saw. Sebab apabila mereka mengakui bahwa Muhammad adalah nabi maka gugurlah agama Yahudi.

Al-Qur’an merupakan target utama serangan misionaris dan orientalis Yahudi-Kristen, setelah mereka gagal menghancurkan sirah dan sunnah nabi saw. Mereka mempertanyakan status kenabian beliau, meragukan kebenaran riwayat hidup beliau dan menganggap sirah beliau tidak lebih dari legenda dan cerita fiktif belaka. Demikian pendapat Caetani, Wellhausen dan lain-lain.

Orientalis lebih tertarik mengkaji apa?

Yang pertama tentu mempelajari al-Qur’an. Mereka mengatakan ini merupakan suatu pendekatan baru dalam mempelajari al-Qur’an dengan metode linguistik, apa adanya tanpa perlu mengkaji asal-usulnya, bahkan mereka mengatakan pendekatan lama mengandung polemik.

Memang benar bahwa corpus kesarjanaan Barat mengenai al-Qur’an cukup beragam. Tidak semua orientalis hendak menghancurkan Islam dengan menebarkan keraguan terhadap al-Qur’an dan hadist. Ada juga orientalis yang konon bermaksud ‘baik’ dan tampak simpati kepada Islam yang disebut counter examples. Di bidang hukum Islam mereka sangat mempunyai kepentingan karena mereka tahu orang-orang Islam semakin semangat mempelajari dan menerapkan ekonomi Islam.

Bagaimanakah pengaruh orientalis di balik gerakan anti-hadits?

Serangan orientalis terhadap hadist dilancarkan secara bertahap, terencana dan bersama-sama. Ada yang menyerang matan-nya seperti Sprenger, Muir dan Goldziher. Menyerang isnad-nya seperti Horovitz, Schacht dan Juynboll.

Serangan mereka diarahkan ke semua kategori; sebagian menyerang hadist sejarah yang berhubungan dengan sirah. Misalnya Kister, Scholler, Motzki. Sebagian yang lain menggugat hadist hukum atau fiqih seperti Shacht, Powers dan Gilliot.

Gugatan para orientalis dan misionaris Yahudi dan Kristen telah menimbulkan dampak yang cukup besar. Melalui tulisannya yang diterbitkan dan dibaca luas, mereka telah berhasil mempengaruhi dan meracuni pemikiran sebagian umat Islam. Muncullah gerakan anti-hadist di India, Pakistan, Mesir dan Asia Tenggara. Pada tahun 1906 sebuah gerakan yang menamakan dirinya Ahli al-Qur’an muncul di bagian barat Punjab, Lahore, dan Amritsar. Pimpinannya Abdullah Chakrawali dan Khwaja Ahmad Din, mereka menolak hadist secara keseluruhan.

Dalam propagandanya, gerakan ini mengklaim bahwa al-Qur’an saja sudah cukup untuk menjelaskan semua perkara agama. Akibatnya mereka menyimpulkan shalat hanya empat kali sehari, tanpa adzan dan iqamah, tanpa takbiratul ihram. Selain itu mereka menganggap tidak ada shalat ‘Id dan shalat jenazah.

Apakah orientalis sekarang gencar melakukan aktivitasnya melalui LSM?

Memang institusi penting bagi mereka untuk menjalankan aktivitasnya karena mempunyai dampak yang luas. Tentunya dengan restu dan dukungan dari pemerintah. Mereka mempunyai dana yang kuat dan fasilitas yang memadai untuk melancarkan aksinya. Selain itu sebagian mereka dengan sebagian yang lain saling bantu membantu dalam menebarkan racun orientalisme.

Bagaimanakah mereka membuat kaderisasi?

Itu memang strategi mereka yang paling mudah. Sebagaimana yang dilakukan Inggris di daerah jajahannya. Misalnya di Indonesia mereka melakukan kaderisasi di Manado, Sumatera Barat dan Salatiga. Oleh karena itu tokoh-tokoh nasional pada waktu itu berasal dari kota-kota tersebut. Tidak semua orientalis melakukan aktivitasnya dengan disamarkan, ada juga yang terangan-terangan.

Apa saja motivasi dan topik kajian orientalis?

Kajian teologi Islam oleh para orientalis Barat telah dimulai sejak awal abad ke-19 Masehi, tidak lama setelah bangsa-bangsa Eropa menaklukan hampir seluruh dunia Islam. Berbekal manuskrip karya para ulama dan ilmuwan Islam yang diboyong ke Eropa, mereka mulai mempelajari dan mengkaji satu per satu khazanah intelektual Islam.

Mereka meyakini kebenaran kata-kata Sir Francis Bacon dalam risalahnya ‘de haeresibus’ tahun 1597 bahwa ilmu adalah kekuatan. Hegemoni militer, politik dan ekonomi akan tumbang jika tidak didukung oleh pengetahuan. Mereka yakin untuk menaklukan dunia Islam mereka harus mengetahui Islam dari berbagai aspeknya dari orang Islam sendiri.

Apa dampak orientalis bagi dunia Islam?

Secara positif mereka banyak menyadarkan kita akan pentingnya membaca sejarah para ulama-ulama Islam kita. Mereka mengangkut manuskrip kita keluar negeri yang merupakan sejarah keilmuwan kita untuk dipelajari dan diaplikasikan sehingga mereka lebih maju dari umat Islam.

Di Irak setelah invasi Amerika, benda dan manuskrip Islam yang ada di Irak banyak diboyong keluar oleh AS. Memang di AS memiliki teknologi yang lebih canggih untuk menjaga manuskrip. Secara negatif mereka mendudukan diri mereka sebagi otoritas dalam berpendapat dan mengambil keputusan. Pendapat dan pemikiran merekalah yang harus didengar dan dipakai.

Apakah benar mereka memasuki dunia pendidikan?

Kebanyakan para pelajar Muslim yang dikirim belajar atau studi ke luar negeri setelah kembali ke Indonesia pikirannya teracuni oleh pemikiran orientalis. Kemudian mereka memiliki posisi yang strategis sepulangnya ke negara asalnya, misalnya menjadi leader dalam dunia pendidikan dan memasuki dunia birokrat. Oleh karena itu mereka mengambil para dosen-dosen dari universitas bahkan kampus-kampus Islam untuk melakukan studi di negaranya agar dapat mewarnai pemikirannya.

Apakah liberalisasi yang telah merebak ke berbagai bidang adalah kerjaan orientalis?

Ya memang. Itu faktor eksternal hasil dari kerja orientalis. Para ahli sejarah umumnya sepakat bahwa Eropa telah mengalami sekularisasi sejak 250 tahun terakhir. Yang masih mereka perdebatkan hanyalah soal bagaimana dan mengapa proses itu terjadi.

Pengaruh liberalisasi lebih gencar terjadi setelah kembalinya dosen-dosen yang belajar ke luar negeri misalnya dari kampus Mc Gill di Kanada. Meskipun demikian orang-orang UIN membantah bahwa yang terjadi itu sangat kecil. Padahal racun orientalis sangat berbahaya walaupun kecil.

Maraknya aliran sesat apakah pekerjaan orientalis?

Secara tidak langsung, iya. Sebab orientalis lebih suka mengetengahkan yang dipinggir, membesarkan yang kecil dan meminggirkan yang di tengah. Misalnya aliran Syiah dan Ahmadiyah, yang kita anggap salah, oleh mereka dikaburkan sehingga seolah-oleh dianggap benar

Musailamah al-Kadzab, mereka mengatakan dari mana kita tahu ia nabi palsu. Mereka beranggapan Nabi Muhammad jadi nabi karena punya kekuatan, kekuasaan dan punya dukungan yang banyak. Musailamah kalah karena tidak punya dukungan.

Apakah orientalis bisa disamakan dengan Diabolisme Intelektual?

Sepanjang pemikiran dan penelitiannya bertentangan dengan kebenaran hakiki dari Ilahi Rabbi, bisa dikatakan sama.

Bagaimana cara mengidentifikasi ilmuwan seperti ini?

Tak sulit mengidentifikasinya, karena ciri-cirinya telah diterangkan dalam al-Qur'an. Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, tapi tak pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Firaun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meski hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum). Mereka selalu mencari argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Yang penting baginya bukan kebenaran tapi pembenaran. Dalam tradisi keilmuwan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut al-'inadiyyah.

Kedua, bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arogan). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi saw, "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (Al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)." (HR Imam Muslim No147) Orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan al-Qur'an atau hadis Nabi saw dianggap dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lainnya. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik, skeptis, menghujat al-Qur'an dan Hadits, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis.

Ketiga, bermuka dua dan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha'). Intelektual semacam ini diancam Allah dalam al Qur'an: "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya." (7:146)

Keempat, mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang bathil dipoles dan dikemas sehingga nampak seolah-olah haq. Sebaliknya, yang haq digunting dan dipreteli sehingga kelihatan seperti bathil. Atau dicampur-aduk keduanya sehingga tak jelas lagi beda antara yang benar dan salah. Strategi ini memang sangat efektif membuat orang lain bingung dan terkecoh.

Contohnya, seperti yang dilakukan oleh pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya. Untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bil-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut.

Berarti sama seperti yang dilakukan kaum orientalis Barat?

Hal ini dilakukan oleh orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Ini tak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahlal-kitab lima talbisunal-haqq bil-bathil wa taktumul-haqq wa antum ta'lamun?" Yang mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.

Al Qur'an telah mensinyalir: "Memang ada manusia-manusia yang kesukaannya berargumentasi, menghujat Allah tanpa ilmu dan menjadi pengikut setan yang durhaka. Telah ditetapkan atasnya, bahwa siapa saja yang menjadikannya sebagai kawan, maka akan disesatkan olehnya dan dibimbingnya ke neraka," (22:3-4). Maka kaum beriman diingatkan agar senantiasa menyadari bahwa "Sesungguhnya setan-setan itu mewahyukan kepada kroninya untuk menyeret kalian ke dalam pertengkaran. Jika dituruti, kalian akan menjadi orang-orang yang musyrik," (6:121). Ini tidak berarti kita dilarang berpikir atau berijtihad. Berpendapat boleh saja, asal dengan ilmu dan adab. Wallahua'lam.

Bagaimana cara melawan dan menghadang sepak terjang mereka saat ini?

Kalau kita melihat serpak terjang mereka yang begitu luar biasa, kita bisa berputus asa. Namun al-Qur’an melarang kita berputus apa, memang tidak mesti instan bisa kita selesaikan. Tentunya harus kita lakukan secara berjamaah diberbagai bidang baik di bidang pendidikan (perguruan tinggi), ekonomi dan lembaga swadaya masyarakat yang islami.

Kita harus berani tampil beda untuk melakukan peningkatan di bidang pendidikan agar tidak perlu lagi mengirim para dosen dan guru untuk studi ke luar negeri. Oksidentalisme itu tidak bisa basa-basi. Itu sebenarnya sudah dilakukan sejak lama untuk mengimbangi pemikiran orientalis seperti yang dilakukan di Jerman, membuka jurusan S1 untuk mempelajari sejarah, budaya dan seluk beluk dunia Barat. Sehingga setelah itu mereka bisa masuk dalam dunia pendidikan dan perusahaan milik orientalis untuk menjadi penyeimbang.

Data Pribadi:
Dosen Islamic International University Malaysia

Nama : Dr Syamsuddin Arief, MA
Tempat/Tgl lahir: Jakarta (Pondok Pinang), 19 Agustus 1971
Pendidikan : - Ibtidaiyah al-Khayriyyah Pondok Pinang

- Kuliatul Mu’alimin Al-islamiyah (KMI) Gontor 1989

- S1 IIU Malaysia 1996

- S2 International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) 1999 - S3 ISTAC 2004
Karier : - Peneliti Insitute For The Study Of Islamic Throught and Civilization (INSISTS) (2003-sekarang).

Dosen Islamic International University Malaysia (2007-2009)

http://sabili.co.id

Lowongan Kepala Afdeling

Kepala Afdeling PT Union Sampoerna Triputra Persada                          Requirements Berusia antara 25 - 35 tahun Pendidik...