Jumat, 14 Agustus 2009

SUPERVISOR BUDIDAYA HIDROPONIK (SPV HIDRO)


GRITA ARTHA KREAMINDO, PT (5ASEC)

Company Description

Perusahaan DRY CLEANING berskala internasional yang memiliki cabang di seluruh Indonesia membutuhkan tenaga kerja untuk posisi :


Persyaratan Khusus :

  • Laki2, usia maks. 30 th
  • Tinggi min. 165 cm
  • Pendidikan min D3 pertanian/agronomi/teknologi pertanian/hama dan penyakit
  • Menguasai sistem, teknolgi dan manajemen budidaya sayuran.
  • Diutamakan dengan sistem hidroponik
  • Memiliki leadership yang tegas
  • Berpengalaman minimal 1 tahun

PERSYARATAN UMUM :

  • Berbadan sehat dan tidak buta warna (dg surat dokter)
  • Bersedia mengikuti seluruh proses seleksi
  • SEGERA Kirim lamaran lengkap dg no telp dan foto 4 x 6 berwarna terbaru dan cantumkan kode jabatan di pojok kiri atas amplop ke :

PONDOK INDAH PLAZA I KAV UA 38 12310atauPO BOX 7052 JKSKL JAKARTA 12240atauhrd@5asecindonesia.com

LOWONGAN AGRONOMY TEAM (AGT)

TRIPUTRA AGRO PERSADA GROUP
Company Description
OUR VISION

To become one of the highest yield producing palm oil and rubber plantations in the world at competitive investment and operating costs also full commitment to social responsibility and compliance to government regulations.

OUR MISSION
  • To develop our competencies in the spirit of continuous improvement to become the best in our field and business.
  • To increase standard of surrounding our estates through job opportunities & community development.
  • To build close & strong relationship with central and provincial government.
  • To provide equal opportunity for employees and reward based on meritocracy.
  • Create stakeholders value.

OUR VALUES

  • Integrity & high work ethics
  • Synergy and respect for the individual
  • Utmost customer satisfaction
  • Excellence through continuous innovation
  • Social concern & environmental friendly

We are fast growing and one of the biggest Palm Oil, Rubber Plantations and CPO Mills companies based in Kuningan, South Jakarta. Triputra Agro Persada Group is a group plantations in Indonesia who has more than 200,000 hectares land bank in excess of 120,000 hectares of plantations and mills that located in Jambi, Central Kalimantan, East Kalimantan, West Kalimantan, and South Kalimantan with more than 20 estates that supported by more than 11,000 employees. In line with our expansion plans and commitments for growth, we are looking for people who want to grow with us, take chances and stand out from the crowd. We need minded thinker who embrace tomorrow, have vision and technical knowledge, also have dedicated of work ethics. We are now seeking to recruit high caliber and dynamic professionals to fulfill the following positions as:



AGRONOMY TEAM (AGT)
(Palm Oil/Rubber Agronomy Research, Agronomy Survey, Agronomy Laboratory)



Requirements:

  • Hold min. S1 degree with min. GPA 2.75 majoring in Agriculture, Science of Soil or other related disciplines from reputables university.
  • Possess min. 3 years experiences at similar position in palm oil or rubber plantation industry.
  • Excellent technical skills & knowledges in palm oil/rubber cultivation aspects, fertilizer recommendation, science of soil, basic statistic, laboratory research, also pest, disease and weed management.
  • Deep understanding of GIS & mapping aspects, land survey also block design.
  • Familiar with Auto CAD, Arc View 3, GPS program also Theodolite & laboratory tools.
  • Able to work under pressure with tight deadline and with minimal supervision.
  • Multi tasking also meeting high standards as well as high quality.
  • Able to function effectively as an individual or team player, self-motivated and well-organized person.
  • Having ability to work in a multi-cultural environment and attention to detail person.
  • Able to communicate clearly and effectively to all levels within an organization also good command English is a good advantage.
  • Willing to be placed and travel to plantations area across Indonesia.
  • Fresh graduated are welcome to apply for staff level position.
  • Possess strong leadeship, analytical thinking and interpersonal skills.

An attractive remuneration package will be offered to the successful candidates commensurate to the qualifications, experience and expertise. Those are interested, please send your comprehensive CV including employment history, academic records, together with recent photo to:

recruitment@triputraagropersada.com and cc to: taprecruitment@gmail.com

visit our website http://www.triputraagropersada.com


TRIPUTRA AGRO PERSADA GROUP
RECRUITMENT & DEVELOPMENT DEPARTMENT

The East Building 23th Floor
Lingkar Mega Kuningan Street Kav. E 3.2 No.1
Kuningan - South Jakarta 12950


** Please include your preferred position code in the email subject or envelope, otherwise your email will be deleted and only short-listed candidates will be notified.




Senin, 10 Agustus 2009

Lowongan Field Assistant / Assisten Kebun

Agro Group


We are a well established foreign conglomerate having business interest in Oil Palm Plantations, Breweries, Financial Services and Leisure. PT Agro Harapan Lestari is the managing agent for Groups’ plantations in Indonesia, where the Group has a land bank in excess of 75,000 hectares of plantation and mills in Central Kalimantan, South Kalimantan and East Kalimantan.

In line with our expansion plans and commitments for growth, we are now seeking to recruit high caliber and dynamic professionals to be based in our Plantations

Field Assistant / Assisten Kebun ( to be based on Kalimantan )
(Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur)

Responsibilities:
  • You will be required to do planning, land clearing, planting, nursery establishment.
Requirements:
  • The ideal candidate should possess Bachelor degree in Agriculture.
  • Minimum 3 years experience for similar position in Palm Oil plantation.
  • Can communicate in English, both oral and written.

If you got what it takes to take on the challenge, please submit your application within two weeks indicating the job code of the post applied in the subject column to:
recruitment@agroholdings-id.com.

Kamis, 06 Agustus 2009

El Nino, Ketahanan Pangan, dan Gizi

Oleh: Ali Khomsan

Dampak El Nino berupa kekeringan kini menghadang di depan mata. Langkah-langkah strategis perlu diambil pemerintah agar masyarakat tidak mengalami kesulitan akses pangan dan petani tidak kian terpuruk akibat gagal panen.

Para petani adalah kelompok yang paling merasakan akibat kekeringan. Tanpa kecukupan air, sawah akan mengering, panen gagal. Kerugian ekonomi pasti menimpa karena sawah menjadi puso. Kekeringan menjadi ancaman jika program reboisasi tidak diintensifkan guna mengembalikan wilayah resapan air. Pemerintah perlu segera membantu petani, misal, dengan bantuan pompa air dan sumur pantek guna mengatasi krisis air. Tanpa bantuan pemerintah itu, kehidupan petani akan kian sulit.

Aspek ketersediaan pangan tergantung sumber daya alam, fisik, dan manusia. Pemilikan lahan yang ditunjang iklim yang mendukung, disertai sumber daya manusia (SDM) yang baik, akan menjamin ketersediaan pangan yang kontinu. Kekeringan yang dipicu El Nino akan mengganggu ketersediaan pangan nasional dan mengakibatkan ketidaktahanan pangan nasional.

Sistem jaminan sosial

Untuk mengantisipasi dampak kekeringan berkepanjangan, sudah saatnya pemerintah memikirkan sistem jaminan sosial/JPS (social security system) untuk petani. Idealnya, sistem JPS bukan hanya untuk mengatasi krisis insidental. Sistem ini bersifat langgeng dan terus untuk seluruh anggota masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi. Cakupan sasaran bisa menjadi lebih besar jika ada kejadian luar biasa seperti kekeringan.

Berbagai strategi mengatasi kemiskinan sudah dilakukan pemerintah. Namun, efektivitasnya belum teruji. Bantuan langsung tunai (BLT), dana BOS, JPS, sampai kompor gas gratis, semua untuk membantu orang miskin.

Kini pada saat kekeringan merebak dan daya beli petani merosot, pemerintah harus segera tanggap merumuskan bantuan untuk keluarga-keluarga petani yang terancam kesejahteraannya. Memberi keringanan kredit pinjaman, atau BLT dengan mekanisme yang lebih baik, amat diharapkan petani untuk mencegah nasib yang kian terpuruk.

Reformasi agraria perlu segera dilakukan. Kegureman petani adalah akibat pemilikan lahan yang sempit. Sementara pemerintah memiliki lahan luas yang belum tergarap maksimal. Petani yang diberi hak garap pasti akan memanfaatkan lahan yang diberikan pemerintah untuk menanam aneka tanaman pangan sehingga ancaman ketahanan pangan dapat diperkecil.

Masalah gizi

Ketahanan pangan yang baik akan berujung pada tercapainya ketahanan gizi. Ketahanan gizi adalah cermin intake gizi dan status gizi masyarakat menjadi prasyarat terbentuknya individu yang sehat. Banyak faktor yang menentukan ketahanan gizi.

Kemiskinan diyakini sebagai faktor terpenting penyebab ketidaktahanan gizi.

Munculnya masalah gizi kurang adalah indikasi lemahnya ketahanan gizi di kalangan masyarakat. Pendapatan yang rendah mengakibatkan masyarakat tidak dapat mengakses makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi. Kondisi ini akan kian memburuk manakala ketersediaan pangan nasional terganggu akibat kekeringan.

Malnutrisi dan kemiskinan

Angka kematian bayi terkait erat status gizi anak. Anak-anak penderita gizi kurang umumnya rendah kekebalan tubuhnya dan hal ini menjadikan dirinya rawan infeksi yang dapat menyebabkan kematian. Penyakit infeksi yang senantiasa mengintai anak-anak dan bayi adalah diare dan infeksi saluran pernapasan.

Dalam hal angka kematian bayi ini, Indonesia (31/1.000 kelahiran hidup) hanya lebih baik dibanding Kamboja (97/1.000) dan Laos (82/1.000). Jika dibandingkan negara lain, kita masih tertinggal. Singapura dan Malaysia, misalnya, memiliki angka kematian bayi amat rendah, yaitu 3 dan 7 per 1.000. Ini menunjukkan besarnya perhatian negara itu terhadap masalah gizi dan kesehatan yang dihadapi anak-anak.

Malnutrisi disarankan menjadi indikator kemiskinan. Saran ini mengemuka dalam International Expert Seminar on Child Growth and Poverty bulan November 2002 di Jakarta. Dalam Millennium Development Goals (MDGs) 2000, para pemimpin dunia sepakat, proporsi anak balita kurang gizi atau berberat badan rendah merupakan salah satu indikator kemiskinan.

Pertumbuhan fisik seseorang dipengaruhi dua faktor dominan, yaitu lingkungan dan genetis. Kemampuan genetis dapat muncul secara optimal jika didukung faktor lingkungan yang kondusif. Yang dimaksud faktor lingkungan adalah intake gizi. Jika terjadi tekanan terhadap dua faktor itu, muncul gagal tumbuh (growth faltering).

Ketahanan gizi yang rapuh ditunjukkan data tahun 1997, yakni anak-anak usia 2-3 tahun yang tidak pernah mengonsumsi daging, telur, ayam, dan hati sebesar 20-25 persen. Sementara penduduk Indonesia secara keseluruhan hanya minum susu sekitar 20 tetes sehari dan makan telur satu butir per minggu.

Ketika kita baru berbangga diri mengklaim sebagai negara yang mampu berswasembada pangan, tantangan di bidang produksi pangan kini menghadang di depan mata. Sinergi kebijakan Departemen Pertanian dan pelaku produksi pangan diharapkan dapat mengatasi problem kekeringan sehingga masyarakat tetap terjamin akses pangannya.


URL Source: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/04/03303075/el.nino.ketahanan.pang


Ali Khomsan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB

Menyimak Utang Negara

Oleh: Siswono Yudo Husodo

Dunia sedang mengantisipasi dampak global defisit anggaran Pemerintah AS 1,09 triliun dollar AS (12,7 persen) dari produk domestik bruto.

Bahkan, defisit anggaran AS itu berpotensi menjadi 1,84 triliun dollar AS bila program-program populis dan sosial kelas menengah bawah harus dilanjutkan karena resesi. Kondisi ini diperberat utang sebesar 11,5 triliun dollar AS.

Untuk menutup defisit yang kian besar, Pemerintah AS menerbitkan obligasi bersuku bunga lebih tinggi. Hal ini mengundang kekhawatiran tentang jaminan pembayaran utang AS di kemudian hari, merosotnya nilai dollar AS, dan penurunan aset dalam dollar AS.

Dampak bagi Indonesia

Hal ini menjadi kabar buruk bagi Indonesia yang sekitar 16 persen APBN-nya ditutup dengan pinjaman luar negeri, termasuk penjualan obligasi. Mengingat faktor country risk, naiknya bunga obligasi Pemerintah AS membuat Pemerintah Indonesia harus menjual obligasi/SUN dalam dollar AS di pasar modal dengan bunga lebih tinggi lagi agar tetap laku.

Obligasi INDO Bond 10 jatuh tempo 2014 bunga 10,735 persen. Indo Bond 011 jatuh tempo 2019 bunga 11,625 persen. Keduanya dalam denominasi mata uang asing, bunganya amat tinggi, karena itu oversubscribe dan kini harganya lebih tinggi dari penawaran awal. Mengapa obligasi Pemerintah Indonesia berbunga lebih tinggi dari obligasi Pemerintah Filipina?

Tersedianya SUN mengurangi gairah bank menyalurkan kredit ke sektor riil. Deposito rupiah yang dihimpun bank, berbunga 6,1 persen, lebih untung dan aman dibelikan SUN dalam dollar AS daripada disalurkan untuk kredit.

Tahun ini adalah awal pemerintahan baru dan puncak jatuh tempo utang, suatu momentum untuk merenungkan kembali ketergantungan pada utang luar negeri.

Sebagai pengusaha, saya tahu betul arti tingginya bunga pinjaman, dan 10 tahun sebagai anggota kabinet, saya tahu persis beban utang bagi negara. Utang pemerintah Rp 112,19 triliun akan jatuh tempo dan 47 persen di antaranya dalam denominasi valas. Jumlah itu lebih dua kali alokasi APBN 2009 Departemen Perhubungan dan Departemen Pekerjaan Umum. Sementara 22,6 miliar dollar AS utang luar negeri swasta jatuh tempo pada saat bersamaan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, rasio utang atas PDB menurun. Artinya kemampuan ekonomi negara untuk membayar kewajiban utang meningkat, cadangan devisa terhadap kewajiban jangka pendek (jatuh tempo kurang dari satu tahun) di kisaran 178 persen.

Pemerintah tampak percaya diri. Beban utang belum dianggap ancaman. Masalahnya, perhitungan PDB Indonesia merujuk output/produksi ekonomi nasional, termasuk yang dihasilkan perusahaan maupun tenaga kerja asing. Meningkatnya PDB Indonesia tak hanya dibentuk oleh kinerja orang Indonesia, tetapi juga peran asing sehingga balas jasa faktor produksi pada pihak asing menyita PDB Indonesia. Gambaran kemajuan ekonomi Indonesia menjadi bias. Pertumbuhan ekonomi relatif tinggi, tetapi jumlah pengangguran dan kemiskinan cenderung statis.

Menurunnya rasio utang terhadap PDB diikuti meningkatnya stok utang. Tahun 2004, total utang pemerintah jika dirupiahkan Rp 1.295 triliun. Tahun 2008 menjadi Rp 1.486 triliun, naik 15 persen dalam empat tahun.

Utang baru

Anatomi APBN terdiri dari penerimaan pajak, bea cukai, dan PNBP. Utang dan pengeluaran berunsur biaya rutin (pembayaran gaji PNS), biaya pembangunan, bagian daerah (dana alokasi khusus dan dana alokasi umum), pembayaran bunga utang, dan pengembalian utang.

Dari segi APBN, beberapa tahun terakhir ini, penerimaan negara di luar utang sudah lebih kecil dari biaya rutin dan pengeluaran pembangunan. Artinya untuk menambah biaya rutin dan pembangunan, pemerintah membuat utang baru. Untuk mengangsur utang lama dan bunga utang, pemerintah membuat utang baru.

Di sini ada dua aspek berbahaya: utang baru selalu lebih besar dari angsuran utang lama. Akibatnya, utang kita terus meningkat. Kedua, utang baru pemerintah berbunga lebih tinggi (11 persen/tahun), berjangka lebih pendek (5-10 tahun), dan dari pasar modal. Bunga utang pada masa lalu amat rendah (1-3 persen/tahun), berjangka panjang (di atas 20 tahun), bersifat antarpemerintah, dalam skema bilateral atau multilateral.

Kita mengganti utang lama berbunga rendah (antara lain melunasi IMF) dengan utang baru berbunga tinggi, maka beban utang meningkat. Indonesia masuk perangkap utang dan ekonomi rentan guncangan eksternal. Dengan kondisi seperti itu, tepatkah menempatkan rasio utang terhadap PDB sebagai indikator untuk mengukur kekuatan ekonomi nasional?

Tak relevan penjelasan Menteri Keuangan yang membandingkan situasi kita dengan Jepang mengingat Jepang memiliki kinerja ekonomi amat maju, aset ekonomi produktifnya tersebar di seluruh dunia, utangnya dalam yen dan dari dalam negeri, praktis tanpa utang keluar negeri. GNP Indonesia lebih kecil dari PDB. Negara-negara berekonomi kuat, GNP-nya lebih besar dari PDB.

Menyadari ada kebutuhan berutang, mestinya IMF yang telah direformasi menjadi alternatif, bukan mengambil pinjaman berbunga tinggi. IMF menawarkan pinjaman non-conditional dengan bunga murah, hanya 2,0 persen/tahun. Meksiko telah memanfaatkan 47 miliar dollar AS. Brasil memakai dana IMF 35 miliar dollar AS, Korsel dan Singapura dalam antrean.

Amat berbeda karakter pinjam-meminjam antarnegara, yang lebih fleksibel dalam rescheduling dan berbunga rendah, dengan menjual obligasi ke pasar, risikonya amat besar. Taruhannya, rating seluruh dunia bisnis Indonesia.

Perkuat fondasi ekonomi

Beban Menteri Keuangan sungguh pelik mengingat sebagian masyarakat masih menganggap IMF seperti zaman Camdessus. Juga pelik antara keseimbangan menekan inflasi dan mengurangi defisit, meningkatkan pembangunan untuk memenuhi harapan rakyat, memperkuat rupiah dengan masuknya valas, termasuk dari utang, dan mempertahankan suku bunga agar sektor riil berkembang.

Maka, pemerintah perlu memperkuat fondasi ekonomi, memperkuat basis sumber penerimaan negara. Penerimaan dalam negeri lewat pajak harus ditingkatkan sehingga lebih besar dari biaya rutin dan pembangunan, ada surplus untuk mengurangi utang. Ini hanya bisa dicapai bila kesejahteraan rakyat meningkat.

Situasinya berat karena tax ratio (rasio penerimaan pajak terhadap PDB) 2009 baru 13,8 persen. Tax ratio negara maju 40 persen dan Asia rata-rata 20 persen.

Pemikiran bahwa cicilan pokok dan bunga utang yang boleh dibayarkan dari APBN harus di bawah persentase tertentu dari penerimaan pajak, atau dari porsi nasional dalam ekonomi domestik, patut dipertimbangkan. Ini membuat kita jujur pada kemampuan membayar utang secara mandiri, dan tidak membayar utang dengan membuat utang baru sambil membiarkan banyak aspek pembangunan terbengkalai karena tak ada dana, dan ekonomi nasional dikuasai asing.

Presiden SBY diharapkan mendengarkan aspirasi untuk mengurangi utang, selain mendengarkan suara yang menyatakan menambah utang tak apa-apa selama rasio terhadap PDB menurun.

URL Source: http://koran.kompas.com/read/xml/2009/08/05/03352988/menyimak.utang.negara


Siswono Yudo Husodo Ketua Yayasan Universitas Pancasila

RAPBN 2010 : Di Antara Belitan Utang dan Kebijakan Populis

Oleh: Latif Adam

Senin (3/8) dua hari yang lalu, untuk yang kelima kalinya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 di depan sidang paripurna DPR.

Hanya pilihan waktunya yang berbeda dibandingkan dengan kebiasaan sebelumnya di mana Presiden selalu menyampaikan RAPBN pada tanggal 15 Agustus.Tidak ada sesuatu yang benar-benar “wah” yang bisa membedakan RAPBN 2010 dari RAPBN tahun-tahun sebelumnya. Karena itu, sulit menebak apakah RAPBN 2010 bisa menjadi pendorong proses pemulihan perekonomian Indonesia dari imbas negatif krisis global.

Beban Utang

RAPBN 2010 disusun dengan beberapa asumsi sebagai berikut. Pertumbuhan ekonomi 5%,tingkat inflasi 5%, nilai tukar rupiah Rp10.000 per USD,suku bunga SBI 3 bulan rata-rata 6,5%, harga minyak (ICP) USD60 per barel,dan lifting minyak 965.000 barel per hari (BPH).

Pendapatan negara dan hibah pada RAPBN 2010 direncanakan sebesar Rp911,5 triliun, meningkat Rp38,8 triliun dari APBN-P 2009 (4,5%), sedangkan belanja negara mencapai Rp1.009,5 triliun, naik hanya Rp3,8 triliun dari APBN-P 2009 (0,4%). Dengan demikian defisit RAPBN 2010 mencapai Rp98 triliun (1,6% dari PDB). Mencermati asumsi dan struktur penerimaan-belanjanya,terdapat indikasi yang cukup kuat bahwa RAPBN 2010 akan tetap membuat pemerintah tergantung pada utang.

Misalnya,untuk membiayai defisit, pemerintah berencana menciptakan utang domestik Rp107,9 triliun dan utang luar negeri sebesar Rp9,9 triliun. Boleh jadi utang yang benarbenar dibuat oleh pemerintah pada tahun 2010 akan lebih besar dari yang semula direncanakan jika defisit mengalami pembengkakan. Dari sisi penerimaan, potensi membengkaknya defisit akan muncul bila pemerintah gagal mempercepat proses pemulihan perekonomian dari imbas negatif krisis global.

Dalam kaitan ini, kegagalan pemerintah mendorong recovery perekonomian akan berdampak secara negatif tidak saja dalam menarik penerimaan pajak sektor swasta (direncanakan sebesar Rp729,2 triliun),tetapi juga pendapatan negara bukan pajak (PNBP) seperti setoran laba BUMN (direncanakan sebesar Rp180,9 triliun). Dari sisi belanja, dorongan pembengkakan defisit akan muncul sebagai salah satu akibat dari tidak cukup realistisnya pemerintah menetapkan beberapa asumsi RAPBN 2010.

Misalnya,penetapan harga minyak sebesar USD60 per barel terkesan sangat optimis karena pada saat ini saja harga minyak di pasaran dunia sudah mencapai USD70 per barel. Tahun depan,harga minyak diperkirakan akan terus bergerak naik seiring dengan membaiknya perekonomian AS,China,dan India,tiga negara konsumen minyak terbesar di dunia. Bila harga minyak lebih tinggi dari USD60 per barel,maka beban pengeluaran subsidi BBM (juga listrik) akan lebih tinggi dari yang dialokasikan sebelumnya.

Berdasarkan penjelasan di atas, sulit menerima argumen (pemerintah) bahwa RAPBN 2010 merupakan formula yang sudah merefleksikan komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap utang. Rasio utang terhadap PDB bisa saja menurun mendekati target pemerintah sebesar 30% pada tahun 2010, tetapi secara nominal jumlahnya akan terus menggelembung.

Lebih dari itu, rasio utang terhadap PDB bukanlah indikator yang paling tepat untuk menggambarkan semakin berkurangnya ketergantungan suatu negara terhadap utang. Penyebabnya, PDB sekaligus memasukan hasil produksi (penerimaan) warga dan perusahaan asing di dalam negeri.

Karena itu, akan lebih fairbila pemerintah mulai secara terbuka membandingkan utang dengan PNB (produk nasional bruto) yang tidak lain merupakan PDB dikurangi penerimaan warga dan perusahaan asing di dalam negeri ditambah penerimaan warga negara dan perusahaan Indonesia di luar negeri.

Populis daripada Fundamentalis

Tadinya kita berharap bahwa RAPBN 2010 akan berperan secara optimal sebagai pendorong proses pemulihan perekonomian Indonesia (dari imbas negatif krisis global) ke arah perekonomian yang memiliki fundamental kuat dan lebih berkualitas.

Karena itu, kita juga berharap RAPBN 2010 akan mampu menggerakkan konsumsi domestik, investasi, dan perdagangan luar negeri. Sayangnya,mencermati postur RAPBN 2010, harapan seperti tersebut di atas masih terlalu jauh untuk menjadi kenyataan. Alih-alih menyediakan fundamental yang kuat agar konsumsi domestik, investasi, dan perdagangan luar negeri bisa tumbuh dan berkembang secara optimal,terdapat indikasi bahwa belanja pada RAPBN 2010 selain melemah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (naik tipis 0,4%), juga lebih terfokus pada kebijakan populis sebagai sarana pemenuhan janji kampanye Presiden pada pemilu lalu.

Salah satu indikasi bahwa pertimbangan populis dalam RAPBN 2010 lebih mengemuka daripada pertimbangan fundamentalis,tercermin dari tingginya alokasi belanja subsidi energi dan nonenergi dan melonjaknya belanja rutin karena Presiden kemungkinan hendak memenuhi janji pemilu untuk menaikkan gaji pegawai. Memang, selain untuk bayar utang (Rp115,6 triliun), belanja pada RAPBN 2010 habis terserap untuk belanja rutin pegawai (Rp161,7 triliun) dan subsidi (Rp144,4 triliun).

Harus diakui, kenaikan gaji pegawai dan subsidi merupakan langkah yang bisa memfasilitasi kenaikan daya beli. Problemnya adalah langkah untuk menaikkan gaji pegawai dan subsidi tanpa dibarengi upaya untuk mengatasi akar permasalahan mendasar yang sering mereduksi daya beli akan membuat langkah itu hanya bersifat artifisial. Risikonya langkah itu tidak sustain untuk mempertahankan daya beli karena sering di-crowding-out oleh fenomena inflasi.

Kalau fokusnya ke penguatan fundamental perekonomian, sudah seharusnya pemerintah mengalokasikan belanja pembangunan yang lebih tinggi,khususnya untuk infrastruktur. Pembenahan infrastruktur akan memperlancar arus barang sehingga bisa menekan inflasi yang sering menggerogoti daya beli dan menurunkan konsumsi domestik.

Sayangnya, alokasi anggaran pembangunan infrastruktur hanya sebesar Rp61,3 triliun, masih jauh dari jumlah ideal sebesar Rp302,5 triliun (5% dari asumsi PDB 2010 sebesar Rp6050 triliun). Lebih dari itu, pembenahan infrastruktur (dan birokrasi) akan menekan cost of doing business sehingga Indonesia bisa lebih menarik sebagai negara tujuan investasi.

Demikian halnya pembangunan infrastruktur akan menjadi katalis yang efektif untuk meningkatkan daya saing produk kita baik di pasar domestik ataupun internasional. Seandainya pemerintah mengalokasikan anggaran pembangunan infrastruktur yang lebih besar dari yang dialokasikan pada RAPBN 2010, pertumbuhan ekonomi sangat mungkin akan lebih tinggi dari 5% sehingga program pengurangan kemiskinan dan pengangguran akan lebih sustain dan berjalan secara natural serta optimal.(*)

URL Source: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/260100/


Latif Adam
Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E)-LIPI

Staff Administrasi Tanaman(Jakarta Raya)

PT Tiga Pilar Sejahtera

Forging ahead energetic and dynamic,challenge you to step front,achievement and grow up with us.

Staff Administrasi Tanaman(Jakarta Raya)

Responsibilities:
  • Bertanggung jawab menangani administrasi dan data tanaman.
  • Bertanggung jawab menangani administrasi dan data pabrik.
  • Membuat laporan rutin administrasi dan data tanaman.
  • Membuat laporan rutin administrasi dan data pabrik.

Requirements:

  • Laki-laki/perempuan, pendidikan min. D3 dari LPP Yogyakarta atau S1.
  • Memiliki pengalaman sebagai staff administrasi tanaman min. 2 tahun.
  • Usia, max. 30 tahun.
  • Dapat mengoperasikan komputer. min Microsoft Office.
  • Memiliki dedikasi kerja yang tinggi, jujur dan bertanggung jawab.
  • Diutamakan memiliki SIM A.
  • Bersedia untuk bepergian ke lokasi site.

Kirimkan aplikasi dilengkapi dengan CV, copy ijazah/transkrip dilengkapi dengan foto terbaru, ke email:winnya.ad@tigapilar.com

Lowongan Kepala Afdeling

Kepala Afdeling PT Union Sampoerna Triputra Persada                          Requirements Berusia antara 25 - 35 tahun Pendidik...