Jumat, 24 Juni 2011

Transisi Demokrasi

Pada artikel kemarin saya membahas bahwa sering kali dalam pergolakan politik dan transisi demokrasi terjadi kegagapan dalam menerjemahkan kebebasan. Inilah yang terjadi pada umumnya pengunjuk rasa yang memenuhi jalanan kota-kota di Arab dan kota-kota lain belakangan ini.

Aksi mereka adalah percampuran anarki dan kebebasan. Pada akhirnya baik pengunjuk rasa maupun seluruh warga negara mendapatkan pelajaran, yaitu demokrasi tidak bisa dibangun dengan mengorbankan integritas kedaulatan negara.Kohesi sosial yang retak akibat pergolakan alih-alih mendatangkan perubahan positif,malah merusak bangsa.

Bisa kita lihat pada Libya yang kehilangan integritas teritorialnya serta Mesir yang kehilangan kedaulatan ekonominya. Bahkan Suriah dan Yaman—yang kohesi sosialnya hancur—berada pada kondisi berbahaya yang berpotensi untuk kehilangan integritas teritorial dan kedaulatan ekonominya.

Sementara Tunisia tak mampu menerjemahkan keinginan para pengunjuk rasa di jalanan ke dalam reformasi politik yang diharapkan.Harapan- harapan yang sebelumnya bersemi tak bisa dicapai. Singkatnya, musim semi kebebasan bagi banyak orang di dunia Arab akan berakhir di kemarau panjang yang menyesakkan.

Ketidakpastian mengambang di tengah masyarakat. Dengan kondisi tersebut, ada risiko tercipta kerinduan pada kondisi lama dan bisa berujung pada pengultusan. Intelektual dan media memainkan peran yang sangat penting dan bertanggung jawab untuk secara independen mengedepankan cara berpikir dan bertindak konstruktif.

Pemikiran objektif demi kemajuan bangsa harus datang dari akademisi,sementara media berkewajiban untuk membuka ruang perdebatan tersebut sebesar-besarnya.Tanpa adanya usaha tersebut, masyarakat tidak bisa bergerak maju untuk membentuk kembali kohesi sosial yang tercerabut.

Lahirnya Kelas Menengah

Konteks di negara-negara Arab belakangan ini dapat diambil sebagai pelajaran bagi negara-negara Asia Tengara. Hampir semua negara Asia Tengara telah bertransformasi (dalam beberapa tahun dan dekade belakangan) dari demokrasi formal ke demokrasi substansial.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah, di sebagian besar negara Asia Tenggara pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dari pertumbuhan demografis. Ini berarti bahwa kelas menengah dalam jumlah besar masih akan terus terbentuk dan merupakan hal yang baru bagi masyarakat yang secara tradisional dijalankan oleh para elite.

Kelas menengah baru yang relatif tidak berpengalaman dalam politik ini adalah segmen yang sensitif dalam masyarakat. Gelombang baru egoisme ekonomi dan nasionalisme di seluruh Asia–– disertai gaya hidup konsumerisme—memberikan tekanan tambahan dan distorsi yang membingungkan pada kelas menengah yang menguat ini.

Berkaca pada sejarah, selama ini kelas menengahlah, bukan kelas atas, yang membawa kemakmuran dan stabilitas di negara seperti Swedia atau Denmark yang dikagumi di seluruh dunia. Namun ternyata kelas menengah jugalah yang memberikan dukungan kuat bagi misi Mussolini dan Hitler.

Kelas menengah seperti teknologi nuklir dapat digunakan untuk tujuan damai,tetapi juga bisa digunakan sebagai senjata destruktif baik untuk di dalam maupun di luar negeri. Beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura— yang pertumbuhan ekonomi dan transisi demografinya mengesankan—dengan kelas menengah yang sudah mapan menghadapi tantangan lainnya, yaitu untuk melembagakan tokoh terpenting yang layak disebut sebagai bapak bangsa (father of the nation).

Jerman telah gagal untuk mendefinisikannya setelah era Otto von Bismarck usai. Para kanselir setelahnya tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan Jerman yang kuat. Bahkan mereka berulang kali terjebak dalam perdebatan tidak perlu, baik di lingkup internal maupun eksternal. Yugoslavia pascakepemimpinan Joseph Broz Tito bahkan harus mengalami kondisi lebih fatal.

Negara ini terpecah belah dalam perang sipil berdarah karena para elite yang tidak kompeten meletakkan basis legitimasi mereka hanya pada pertentangan antara konsep negara berdasarkan kepemimpinan tokoh agama kontra nasionalisme. Namun, China pasca-Deng Xiaoping telah berhasil melembagakan Deng sebagai sosok reformis terpenting dari keberhasilan China. Negara Tirai Bambu ini akhirnya mampu menikmati pertumbuhan ekonomi dan kohesi sosial yang tetap terjaga.

Merangkul Kelas Menengah

Asia Tengara sebagai sebuah region dalam waktu dekat ini akan menghadapi agenda pemilihan umum parlemen Thailand. Isuutamatidakharusmenjadi pilihan antara warna merah dan warna kuning. Hal ini jauh lebih penting untuk mengondisikan perdebatan politik yang akan berlangsung apakah konfrontatif atau kooperatif, afirmatif atau meremehkan, visioner atau picik dan jangka pendek, serta terdistorsi atau terfokus.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan penciptaan koherensi sosial, tiap negara Asia Tengara harus memobilisasi dan memberdayakan kelas menengahnya. Pada dasarnya semangat dan afiliasi kelas ini pasti akan menantang elite yang sudah mapan. Anggota kelas menengah akan mempertanyakan kebijakan yang diambil, bahkan cenderung menggunakan link internasional dalam usaha membentuk konsensus sosial baru.

Kebangkitan kelas menengah adalah konsekuensi kebangkitan negara-negara Asia Tenggara. Tak ada satu pun bukti sejarah yang mencontohkan negara yang mampu menahan kemunculan kelas menengah. Namun, kerusakan akibat menahannya sangat banyak. Langkah mengabaikan atau menghalangi atau menekan kebangkitan kelas menengah oleh pemerintah akan sangat berbahaya baik secara sosial,politik maupun secara historis, tidak bertanggung jawab.

Puluhan juta generasi muda Asia Tenggara akan menyelesaikan pendidikan tersiernya dalam beberapa tahun ke depan. Merekalah yang akan menjadi regenerasi kelas menengah itu. Diperlukan penyesuaian mendasar dalam program sosio-ekonomi dan sosio-politik dari partai politik. Selain itu juga diperlukan pelebaran saluran partisipasi aktif bagi kelas menengah baru.

Tekanan emosional seperti nasionalisme maupun atau fanatisme agama dan penyebaran rasa takut terhadap kelas menengah baru ini akan mencemari iklim di mana kelas menengah yang baru akan menumbuhkan budaya politiknya sendiri.Para elite yang sudah mapan itu memiliki tanggung jawab baru, yaitu untuk mengakomodasi, mengatur, dan mengarahkannya.

Oleh karena itu, jika Anda bertanya kepada saya apa pilihan politik saya untuk Thailand yang dalam waktu dekat ini menghadapi pemilu dan untuk Filipina, Malaysia, Singapura atau Indonesia di waktu yang akan datang, saya akan mengatakan bahwa proses politik matang, bertanggung jawab, dan partisipasi yang diperluas akan menggapai kemenangan.

Pilihan konsolidasi itu harus dijalankan oleh setiap pihak untuk menciptakan konsensus sosial. Membunuh budaya politik dan seluruh proses politik hanya untuk menang di pemilu adalah harga yang sangat mahal bagi kehidupan berbangsa. Baik partai politik ataupun pemilih tak dapat menanggungnya.

● ANIS H BAJREKTAREVIC Professor and Chairperson International Law/Global Political Studies, IMC Universitiy of Applied Sciences Krems, Austria Bagian Kedua (Habis)
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/408180/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ya

Lowongan Kepala Afdeling

Kepala Afdeling PT Union Sampoerna Triputra Persada                          Requirements Berusia antara 25 - 35 tahun Pendidik...